Kamis, 20 Oktober 2011


Tengah malam hampir terlewati, sinar terang rembulan menyinari seisi alam. Suara-suara binatang malam riuh rendah menyambut sang dewi. Angin dingin berhembus membawa butiran-butiran embun yang mulai turun. Pucuk-pucuk pohon besar tampak melambai-lambai malas diterpa angin. Pandu, sudah bersiap-siap didepan rumahnya. Pekerjaan sebagai tukang sayur membuatnya merubah jam biologisnya. Siang tidur, malam kelayapan mencari barang dagangan. Bersama teman-teman seprofesinya Pandu menyewa mobil pickup bak terbuka yang mengantarkan mereka ke pasar induk. Menunggui belanja dan mengantarkan mereka kembali kelapak-lapak pasar tradisional.
Diteras depan rumah Pandu menunggu jemputan ditemani sang isteri. Secangkir kopi dan pisang goreng tampak hampir habis. Lilis, wanita yang dinikahinya dua tahun lalu belum juga memberinya anak. Namun itu tidak mengurangi rasa cintanya kepada wanita yang bahenol ini. Lilis adalah kembang desa, berpuluh-puluh orang mencoba melamarnya. Dari mulai bang digul juragan ayam, Pendi pegawai kelurahan sampai pak untung juragan angkot yang sudah beristeri tiga, ditolaknya. Cinta nya jatuh pada Pandu, pedagang sayur yang memang ganteng dan baik hati ini.
“bang, kok tumben jam segini jemputan abang belum datang ya?
“ iya nih, biasanya udah sampe, jangan-jangan supirnya ketiduran kali”sahut Pandu sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
“apa ngak usah dagang aja bang hari ini? “Ehmm kayaknya dingin banget bang malam ini….
Pandu menoleh ke arah Lilis. Sang isteri pun melengos sambil tersenyum malu-malu.
“he he emangnya lagi pengen? Canda nya
Lilis Cuma senyum-senyum manja, wajahnya tampak menunduk malu. Pandu mendekatkan wajahnya, bibirnya hampir menyentuh bibir Lilis….
Tidiiiiiiiiiiiittttttttt, suara klakson mobil dan teriakan kawan-kawannya dari atas mobil bak membuatnya terperanjat
.” Woiiiii terusin besok aja, sekarang dagang dulu”, suara Parto di sertai tawa ngakak teman-temannya.
“Mas pergi dulu ya Lis, tangannya menggapai sang isteri dan mencium keningnya.
“Hati- hati dijalan ya mas”. Serunya sambil tersenyum manis.
Pandu pun segera naik keatas mobil, suara riuh teman-temannya masih terdengar ketika mobil mulai berjalan.
********
Dari atas pohon gandaria sesosok tubuh tinggi besar dan berbulu dengan mata merah mengawasi kearah Lilis yang sedang membereskan gelas dan piring diteras. Air liurnya menetes-netes seperti kucing melihat seonggok ikan. Tak lama kemudian Lilis pun masuk kedalam rumah, pintu dikuncinya rapat-rapat. Deretan pohon-pohon besar disekitar rumah sering membuatnya takut bila sedang sendiri seperti ini.
Mahluk tinggi besar inipun segera turun dari kegelapan pohon gandaria, berjalan cepat menuju rumah Lilis. Tubuh besar dan berbulunya serasa sangat ringan. Tak bersuara sedikitpun,seperti hembusan angin.
Lilis baru saja merebahkan tubuhnya ketika suara Mas Pandu memanggilnya.” Lilis. Lilis tolong buka pintunya, abang di depan” suara itu begitu jelas terdengar digendang telinganya. Seperti dibisikan dari sampingnya. Dia pun segera beranjak kedepan.
“Mas, Mas Pandu pulang lagi” serunya sambil memutar anak kunci
“Iya Lis tolong bukakan pintu”
Pintu terbuka, wajah Pandu suaminya tersenyum sumringah. Tangannya segera merangkul Lilis dalam dekapannya. Bibir nya melumat bibir tipis isterinya dengan sangat bernafsu. Tangan nya mulai menggeranyangi seluruh tubuhnya. Lilis sampai tak bisa bernafas, “mas, mas, masuk dulu, pintu nya belum dikunci nanti ada orang lihat, malu mas, seru lilis dengan sedkit bingung. Tak biasanya Mas Pandu begitu benafsu mengajaknya bercinta.
Pandu membopong tubuh isteriya kedalam kamar. Tangannya yang kekar merobek bajunya, Lilis berteriak terkejut. Dalam sekejap saja seluruh pakaiannya telah sobek berserakan di atas tempat tidur. Pandu bercinta dengan sangat bernafsu. Energinya seakan tak ada habisnya. Lilis sudah megap-megap tak karuan. Selama dua tahun berumah tangga baru kali ini dia melihat sang suami bercinta dengan sangat ganas. Seperti hewan liar yang tidak makan berminggu-minggu. Namun rasa herannya tertutupi oleh kenikmatan yang menjalari seluruh tubuhnya.
Lilis terkulai lemas, tertidur pulas sampai matahari pagi meninggi. Suara salam dan ketukan dipintu membangunkannya.
“Assalamualaikun, lilis, lilis ini abang Lis,Tolong bukakan pintu” suara dari luar rumah sayup-sayup terdengar.
Dengan pikiran masih seperti orang ngelindur lilis bangun. Seluruh badannya terasa sangat sakit. Dilihatnya dicermin, bercak-bercak merah bekas gigitan dan cakaran pada dadanya. Ditutupi tubuh telanjang nya dengan sehelai kain sarung,diapun bergegas keluar dari kamar.
Dibukanya pintu perlahan. “ Mas dari mana, pagi-pagi kok udah keluar?
Pandu bingung dengan pertanyaan isterinya. “Kamu masih ngantuk ya”, tangannya segera melingkari tubuh seksi isterinya yang hanya berbalut sarung.Bibirnya mengecup bibir isterinya. Tangannya mulai bergerilya kemana-mana.
“kita lanjutin yang tadi malam ya”,bisik Pandu
“kan tadi malam sudah mas, emangnya ngak cape?
“Tadi malam? Tadi malam kan aku kepasar Lis kamu ngigau ya?
Lilis tertegun, lantas siapa yang tadi malam bercinta dengannya, terbayang bekas gigitan dan cakaran ditubuhnya, caranya bercinta, tubuhnya serasa mengigil ketakutan, bulu kuduk nyapun seketika meremang…………..

Senin, 10 Oktober 2011


Titik Api tampak mulai menyala dari lantai dua sebuah rumah mewah. Api mulai membesar dengan cepat. Asap mengepul keudara, lidah-lidah api tampak menjilati setiap sisi ruangan. Orang-orang ramai bereriak-teriak dari luar rumah. “ pak Budi, bangun pak, pak kebakaran-kebakaran, pak budi …….pak pak,” suara orang bersahut-sahutan. Riuh rendah suara warga yang berteriak-teriak.. Gerbang besi yang tertutup rapat tak memungkinkan warga untuk mendekat. Beberapa warga berinisiatif melempari pintu rumah dengan batu untuk membangunkan penghuninya. Api sudah semakin membesar namun pemilik rumah tak juga keluar.Warga semakin cemas menyaksikan api yang semakin membesar. Tak lama berselang, sirene pemadam kebakaran mulai terdengar semakin mendekat. Pintu gerbang depan akhirnya dijebol. Petugas berusaha keras menjinakan api yang semakin beringas.
Aku termangu disudut pohon ini, sambil memeluk isteri dan dua orang anakku. Si jago merah tampak mulai beringas. Potongan balok-balok diatas rumah mulai berjatuhan. Petugas agak kewalahan menjinakan api yang terus berkobar-kobar ditiup angin.
Menatap lirih pada rumah yang pernah memberiku sejuta kebahagiaan. Rumah mewah berlantai dua, dengan halaman yang luas. Sebuah tulisan besar tampak masih menempel ditembok depan rumah, DISITA OLEH BANK. Miris aku membacanya .Kutatap wajah anak isteriku sekali lagi. Guratan sisa air mata kering masih tampak disana. Sudah tidak ada lagi yang perlu di tangisi. Kebahagiaan yang utama adalah kami masih bisa berkumpul bersama. Hilang sudah kesusahan dan segala macam persoalan hidup yang melilitku.
“Hanya ini yang bisa papa lakukan untuk mempertahankan kebahagiaan kita”. Aku berguman lirih. Aku termangu menyaksikan lambang kesuksesanku itu perlahan-lahan habis dimakan api.
“Mengapa kita ada disini Yah? Tanya aldi mengagetkanku.
“Karena kita harus segera pergi nak”
“Tapi aku masih betah tinggal disini, semua teman-temenku ada disini, aku belum mau pindah yah”,wajah polosnya menyiratkan kesedihan yang mendalam.
Aku terdiam tak mampu menjawab
Kutatap isteriku dan Tya dalam gendongannya. Senyum manis di bibir mungilnya membuatku merasa sangat bahagia.
Mas, mengapa kau tega melakukan ini semua?
“Aku rela memang bila kita harus hidup miskin mas, aku isterimu, aku akan selalu ada disampingmu disaat senang ataupun susah, kau tak perlu melakukan ini”, Air matanya kembali turun membasahi pipi. Aku beringsut mendekati isteriku, kupeluk dia dengan segala kasih sayang yang tersisa.
“Tapi hutang-hutangku sudah sangat besar Vi, aku tak sanggup membayarnya.
“Tapi kita masih bisa mencari jalan lain mas”
“Jalan mana Vi, semua jalan kan sudah pernah kucoba, tapi semua nihil’
“ Setiap hari kita malah diteror oleh penagih Hutang itu”
Butuh dua jam lebih sebelum akhirnya api dapat dikendalikan sepenuhnya. Petugas bergegas masuk kedalam rumah. Ruang demi ruang disisir dengan hati-hati. Di sebuah kamar yang besar, tampak 4 onggok mayat yang sudah menghitam ditemukan dalam kondisi mengenaskan diatas tempat tidur. Sang ayah tampak memeluk anak dan isterinya. Kondisi kamar sudah porak poranda tak berbentuk.
Sesosok tubuh bocah yang sudah hangus menghitam tampak yang pertama dikeluarkan oleh dua orang petugas. Menyusul kemudian tubuh anak yang lebih kecil, dan terakhir kedua orang tuanya.
“Tapi Mengapa kau tega membawa kami semua mas? Tidak kah kau berfikir membiarkan Aldi dan Tya melanjutkan kehidupannya. Jalan mereka masih panjang, biarkan takdir mengalir sewajarnya.Mereka hanya anak-anak, mereka masih mungkin untuk melanjutkan kehidupannya?
“Maafkan aku Vi……
“Maafkan aku, aku juga sebenarnya tidak sanggup untuk melakukannya, tapi aku harus……
“Kumasukan racun itu kedalam susu yang diminum aldi dan tya, Berharap mereka tidak merasakan sakit yang terlampau berat.Demikina juga dirimu, aku meracuni makan malam mu, berharap kalian terlelap dalam mimpi panjang dan tidak merasakan sakit”.
“Aku sangat mencintai kalian semua.Aku tak sanggup bila harus sendiri, di dunia ataupun di alam lain. Biarlah kematian menjemput kita yang penting kita masih bisa bersama.”
Tapi mengapa kau masih harus membakar jasad kami?
Aku terdian sejenak, sambil menatap sisa-sisa bangunan yang mulai runtuh.
“Aku ingin agar kita secepatnya sampai di tujuan akhir kita”
Raung sirene ambulan memekik meggetarkan jiwa, Jasad-jasad hitam legam menyisakan bau daging terbakar di udara. Kantung-kantung mayat segera ditutup dan dimasukan kedalam mobil. Bersamaan dengan itu seberkas cahaya terang kulihat di kejauhan sana. Semakin lama semakin mendekat menghampiri kami. Ku gandeng anak dan isteriku. “ Ayo,nak kita harus segera pergi, ada dunia lain disana yang menjajnjikan kebahagiaan yang abadi”.

Jumat, 07 Oktober 2011


Malam sunyi dan dingin, angin bergulung-gulung meniupkan debu dan mengusir rintik hujan yang mencoba mendekat. Awan hitam menggantung, mendekap erat sang rembulan dalam pelukannya. Berpendar-pendar Cahaya suramnya tak mampu menerangi malam. Malam yang nyaris bisu dan buta. Ditengah kesunyian itu, suara emprit gantil terdengar mendirikan bulu roma.
Burung penanda kematian itu sudah datang, entah siapa yang kini akan dibawanya. Seorang gadis kecil beringgsut keluar dari rumah sambil membawa senter. Di carinya di pucuk-pucuk pohon, sosok yang sangat menakutkan itu. Disana, di pucuk pohon belimbing tampak seekor burung kecil sedang asik bernyanyi lirih. Gadis itu mengambil batu sekepalan tangan, dan melemparkan kearah burung tersebut. Suara gemeretak, daun dan ranting yang patah segera terdengar. Suara burung itupun segera lenyap bak ditelan bumi. Didengarkannya dengan seksama, sampai suara burung itu benar-benar sudah menghilang.
Nina, namanya, usianya belum genap delapan tahun ketika ibunya meninggal dunia karena sakit. Sejak itu dia hidup hanya berdua bersama sang ayah. Hingga kini usianya menginjak 10 tahun, ayahnya belum lagi menikah. Dirumah itu hanya ada seorang pembantu yang menyiapkan makan dan mencuci pakaian, sore hari nya si bibi ini pulang. Tinggalah bocah ini seorang diri dirumah menunggu ayahnya pulang.
Aku yang tinggal disebelah rumahnya hanya tersenyum melihat tingkah lakunya.
“Nina, lagi ngapain malam-malam diluar? Seru ku.
“ itu om, ada burung emprit gantil dari tadi bunyi terus, aku lempar pakai batu tadi supaya pergi jauh”, jawabnya.
“Om apa setiap ada burung emprit gantil itu pasti ada yang meninggal? Tanya nya dengan wajah polos.
“ he he he itu hanya mitos, kamu kan sering denger suara burung itu, bukan Cuma malam ini kan? Kadang pagi-pagi atau siang hari. Minggu lalu juga ada kan? Denger ngak? Tapi ngak ada tuh orang kampung kita yang meninggal, iya kan? Jawabku mencoba menjelaskan.
“tapi om, dulu, emprit gantil yang membawa mama, pergi”, serunya dengan mimik serius.
“ he hehe nina, itu hanya kebetulan saja, tidak ada hubungannya dengan emprit gantil”
“Tapi Nina khawatir Om, papa kok belum pulang ya, sudah jam tujuh nih, biasanya sebelum magrib sudah sampai dirumah’
“udah kamu telepon?
“sudah om, tapi dari tadi ngak nyambung-nyambung, nina jadi khawatir, apalagi denger suara emprit Gantil tadi”. Wajah polosnya membuatku tersenyum.
“ Ya sudah ditunggu aja, masih macet kali, oh ya kamu mau nunggu dirumah Om, ada sarah dan diva tuh lagi main monopoli.
“Ngak dah om, aku mau ngerjain PR dulu”,jawab nya.
“Kamu udah makan belum?
“Belum, nanti tunggu papa pulang aja, terima kasih ya Om, nina mau masuk kedalam dulu”.
Belum lama nina masuk kerumahnya, suara burung itu kembali terdengar. Memiriskan hati, senandung kesedihan yang memang membuat setiap orang merasa bergidik mendengarnya.
*****
Jam 7.15 malam, Aku duduk sambil menikmati secangkir teh hangat. Koran sore sudah hampir habis kubaca ketika Handphoneku berpendar-pendar, sebuah SMS masuk. Isteriku mengirimkan sebuah pesan, “ mas aku sudah dekat rumah, kamu mau dibelikan makanan apa? Buat anak-anak sudah aku belikan ayam tadi di Mac Di , Sop iga atau Sate bang kumis mau ngak?
Aku mengetikan sebaris kata, “ sop iga ”, jawabku singkat. Aku memang paling malas menjawab sms. Cuma kata-kata singkat saja yang biasa ku ketikan. Isteriku sudah maklum dengan kebiasaanku itu.
Teh sudah habis kuminum sampai tegukan terakhir, Koran sudah selesai kubaca sampai ke iklan-iklan nya. Ketika tiba-tiba Pak RT datang bersama seorang Polisi.
“Assalamualaikum,
“Wa alaikum salaam” jawabku, dengan seribu tanda tanya dalam diri.
Pak RT menjelaskan maksud kedatangannya. Seketika dunia seakan runtuh, mata ku berkunang-kunang,tubuhku lemas tak bertenaga. Hanya kata-kata terakhir pak RT yang masih bisa kutangkap.”istri anda mengalami kecelakaan, motornya ditabrak truk“.
Suara Emprit Gantil itu mengiang-ngiang terus dalam telingaku. Dendang kesedihan yang terus saja dinyanyikan. Lirih menusuk-nusuk hati, mengabarkan berita duka.

Catatan :
Burung Emprit Gantil : Burung bertubuh kecil ini dipercaya oleh sebagian orang sebagai burung penanda bahwa akan ada orang yang meninggal. Dijawa disebut prit gantil, ada juga yang menyebutnya burung wik wik

Rabu, 28 September 2011


Kupandangi wajah nya yang pucat pasi menatapku. Tanganku mencengkram kuat lehernya, nafasnya tersengal-sengal. Kukendurkan sedikit cekikan tanganku, Air matanya turun menetes dengan deras, “maafkan aku mas, aku tak bermaksud menghianatimu,” suaranya terdengar lirih. Matanya melirik kesamping tempat tidur. Sesosok tubuh gendut tampak terkapar bermandikan darah. Disebelah kirinya seorang anak kecil tampak diam tak bergerak.

“itu anakku, mengapa kau tega membunuhnya? Teriaknya histeris. Tubuhnya meronta-ronta. Aku hampir kewalahan menahan tubuhnya. “ dia tak tahu apa-apa,mengapa kau tega membunuhnya? Suaranya parau menahan kesedihan.

“karena dia adalah hasil perbuatan bejat mu, perempuan sialan”, teriak ku. Lelaki bajingan itu harus mati, dan kau juga harus merasakan, perihnya kehilangan seseorang yang kau cintai. Aku tampar wajahnya berkali-kali dengan tangan kananku. Air matanya turun semakin deras. “ maaf, maaf kan aku,aku khilaf mas”,ratapmu.

“ Aku tidak akan membunuh mu sayang. Aku ingin kau rasakan semua penderitaan, rasa kehilangan yang teramat dalam. Kau harus rasakan itu”, bentak ku.

“ kau tega menghianatiku, pergi dengan lelaki bajingan ini? Aku selalu baik kepadamu tapi mengapa kau tega melakukan ini? Kini Hidupku sudah hancur” seruku dengan bibir bergetar, Amarah benar-benar menderu-deru dalam dadaku. Sebilah belati berlumuran darah tampak tergeletak disamping ku.

“Bertahun-tahun kurajut asa itu dalam jutaan macam perasaan dan pengorbanan. Mencoba mengerti dan memahami mu, berusaha mengisi hatimu, dan membeli perasaan mu. Jutaan kebaikan yang kuberikan dengan tulus atas nama cinta. Keikhlasan yang muncul begitu saja dari lubuk hati yang paling dalam. Tak sedikitpun berfikir kau akan pergi meninggalkanku. Melupakan segunung harapan yang pernah kita tulis dalam diary kita. Tentang sebuah biduk yang mengarungi samudera dalam terpaan topan dan badai. Kita bisa, heh itukan optimisme yang selalu kau hembuskan.” Suaraku nyerocos tak karuan.

Tapi ingat apa yang kau lakukan??

“Perahu kecil kita ini baru saja berlayar. Baru ada riak-riak kecil disana, belum ada gelombang besar menerpa mengapa kau malah menyerah pergi.Tak cukupkah kau lihat optimisme di wajahku ini. Jika saat itu tanganku belum kuat, tak bisakah kau menunggu proses yang sedang kita lalui. Hampir semua orang melalui tahapan itu. Mengayuh biduk rumah tanga dengan terseok-seok, tapi toh mereka bisa sampai di puncak kebahagiaan. Sayang, Jika kau merasa aku nakoda yang buruk, peringatkanlah aku, luruskan jalanku, bukan malah mencari nakoda baru.” Nada suaraku semakin tak karuan. Kadang naik tinggi kadang parau dan terdengar samar-samar.

Suara lirihku kembali terdengar,..

“Kini enam tahun setelah kita berpisah., kembali kulihat wajahmu secara tak sengaja di facebook. Bersama suami dan anakmu. Dulu kau mati-matian bersumpah bahwa kau hanya berteman dengannya. Tak ada hubungan khusus antara dirimu dan dirinya. Ternyata kau memang menjalin cinta dengan lelaki sialan ini. Dusta yang selalu kau selubungi dengan air mata.”

“Kau pergi meninggalkanku hanya demi lelaki botak,pendek, gendut dan hitam ini? Sungguh aku merasa tersinggung sayang. Secara fisik aku yakin masih lebih baik darinya, kebaikan hati? Tanyalah pada hatimu yang paling dalam, limpahan kasih sayang yang kucurahkan selama ini. Tak cukupkah itu semua? mungkin tak cukup jika kau hitung secara materi”, air mataku turun dengan deras. Aku sesugukan menangisi dan meratapi nasib ku. Tangisku menyumbat jalan nafasku, dadaku terasa sesak, terbatuk-batuk, akupun menggeliat bangun.

Dingin pagi menyambutku, ku buka mata yang masih terasa sangat berat. Keringat dingin bercucuran membasahi seluruh tubuhku. Mencoba memahami apa yang sedang terjadi, mengumpulkan semua nyawaku, hingga sepenuh nya tersadar.

******

Pak Mus, pengurus masjid dekat rumah sudah terdengar mengaji. Suaranya terdengar sangat nyaman di telinga, menenangkan hati siapapun yang mendengarnya. Lantunan ayat suci dipagi buta menjelang subuh seperti ini serasa sangat menyentuh hati. Teringat mimpi buruk yang baru saja aku alami, “Astagfirullah allazim, mungkinkah ada pikiran seperti itu dalam diriku. Disampingku, laptop tampak masih terbuka. Kutekan tombol enter, laptop pun menyala situs facebook ku tampak belum kututup dari tadi malam. Wajahmu masih tampak disana bersama seorang lelaki dan anak kecil

Hatiku memang tersakiti luar biasa tapi aku masih sangat waras dan Logika ku masih berjalan. Aku sudah memaafkan semua, membuang semua kenangan buruk dan hanya mengingat semua kebaikannya. Di Subuh yang hening ini,kupanjatkan selaksa doa untuk orang tuaku, diriku, saudaraku dan juga kamu, semoga Allah selalu melindungi dan melimpahkan segala rahmat Nya.

Teringat jutaan harapan yang pernah kita ucapkan dulu. Harapan yang kita ukir selangkah demi selangkah dalam eksotisnya Braga, ramainya Dago dan Rindangnya pohon waru di Dipati ukur. Kehangatan yang kita bina di Haur Mekar sampai Babakan Siliwangi. Buatku Tak mudah melupakan itu semua, entah untuk mu. Yang jelas jangan pernah lagi dustakan cinta…………..

Selasa, 20 September 2011



Selalu ada kenangan yang indah dan kadang menggelikan untuk dikenang setiap datang bulan ramadhan. Salah satu kenangan yang kuingat ketika Ramadhan adalah ketika kuliah di Bandung pada era 1990an. Pada saat itu musim panas yang panjang, siang sangat terik sedangkan malam dingin menusuk tulang. Dalam kondisi seperti ini rasanya malas kalau harus keluar cari makanan sahur. Setiap malam, sepulang tarawih aku sudah mempersiapkan makanan untuk sahur. Nasi sudah kumasak dalam rice cooker. Untuk lauknya aku beli sepotong daging ayam dan 2 potong tempe. Cukuplah untuk sekedar makan sahur.


Malam ini hujan turun rintik-rintik, menambah dingin cuaca disekitar tempat kos ku. Dering weker segera saja membangunkan ku. Jam menunjukan pukul 03.30 WIB, waktu yang kurasa pas untuk makan sahur. Piring kusiapkan, sepotong ayam goreng dan tempe aku taruh di atas meja. Nasi masih tampak mengepul dari rice cooker. Akupun bergegas membuka pintu kamar dan keluar untuk mencuci muka di kamar mandi. Pikiran segar, meski cuaca dingin sangat menusuk tulang. Kunyalakan radio dan segera bersiap untuk bersantap. Namun alangkah terkejutnya ketika kulihat diatas piring tinggal tersisa sepotong tempe. Celingukan kucari-cari kemana ayam goreng dan sepotong lagi tempe yang tadi aku taruh di piring. Akupun segera keluar kamar, dan kulihat sebuah pemandangan yang membuatku mendidih melihatnya.

Di sudut sebuah pohon yang rindang kulihat disana dua ekor kucing sedang asik makan sahur. Sepotong tempe dan ayam goreng yang tadi kubeli sudah tinggal tulang nya saja. Seolah mengejek ku dua ekor kucing tadi dengan asik masih saja menjilati tulang ayam tersebut. Akupun naik pitam, Kulempar dua ekor kucing itu dengan batu. Batu mengenai kaki salah seekor kucing. Amarah begitu memuncak dalam darahku. Sambil terpincang-pincang Kucing itupun berlarian melompat keatas genting, menjauh sambil memandangiku. Sumpah serapah pun keluar dari mulutku.

Jarak warung yang buka sahur sangat jauh dari tempat kos ku dan rasanya tidak akan cukup waktu untuk sampai kesana. Teman-teman kos sedang pulang kampung. Langit pun bersekongkol mengejekku, Hujan turun semakin deras. Dengan perasaan bercampur aduk antara marah dan sedih aku pun kembali lagi ke kamar kos. Kusendok sepiring nasi dan sepotong kecil tempe yang tersisa. Kutelan nasi hangat tersebut dengan emosi bercampur aduk dan mata berkaca-kaca. Teringat suasana sahur dirumah yang penuh dengan canda adik-adiku dan lauk pauk yang lengkap. Kalau saja tidak ada ujian semester ini tentu aku sudah ada dirumah.

Tak lama azan subuh pun bergema, kuambil air wudhu dan segera menunaikan sholat subuh. Air yang dingin menyurutkan amarahku. Puasa sudah berjalan dua minggu, tapi urusan mengendalikan amarah tampaknya belum sepenuhnya bisa kukuasai. Ku ucapkan istigfar beberapa kali, mungkinkah ini juga salah satu ujian dari Nya untuk ku yang sedang menjalankan puasa. Ternyata urusan mengendalikan amarah itu memang salah satu hal yang sulit.

Dipagi hari kulihat kucing tersebut di dekat tempat kos ku. Berjalan terpincang-pincang, dengan kaki belakang yang tampak terluka. Jika saja kucing itu mengerti betapa menyesal aku. Aku Cuma mau bilang, “Maafkan aku ya puss, tadi malam aku sangat marah padamu”.


Pernikahan sejatinya adalah menyatukan dua hati yang saling mencintai. Keikhlasan menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan. Berkomitmen untuk memulai kehidupan yang baru dengan semangat saling menghargai. Namun ada kalanya niat mulia tersebut terhalang oleh factor keluarga besar dari pasangan. Restu dari orang tua dan semua anggota keluarga tentu akan menjadikan sebuah perkawinan terasa lebih sempurna. Calon mantu akan di lihat dari Bibit, Bobot dan Bebet nya. Semua penilaian ini akan menjadi pertimbangan dari calon mertua, diterima tidaknya seorang calon mantu.

Penilaian seseorang layak atau tidak menjadi calon menantu ini kadang sampai menelisik masa lalu nya. Hal ini dialami salah seorang temanku ketika dia memutuskan untuk menikah. Calon istri yang akan dinikahinya berstatus janda beranak satu. Kontan saja seluruh keluarga besarnya menolak mentah-mentah. Dalam persepsi mereka, janda adalah seseorang yang sudah pasti tidak baik masa lalunya. Di zaman yang sudah maju seperti sekarang inipun, anggapan miring tentang kehidupan sosial seorang janda masih saja membelenggu pikiran kita.




Stigma negatif seorang janda

Dalam budaya patriarki yang dianut oleh masyakat kita, status janda adalah bentuk penyimpangan norma dari suatu system keluarga. Keluarga dipimpin oleh seorang lelaki sebagai pencari nafkah dan wanita yang mengurusi rumah dan anak-anak. Ketika seorang wanita menjadi janda maka bukan hanya beban ekonomi yang membebaninya, lebih berat lagi adalah beban sosialnya. Secara ekonomi, banyak wanita yang sudah mapan dan menghidupi kehidupan nya sendiri. Namun ketika mereka mampu secara finansialpun masyakat masih tidak mempercayai hal itu. Keberhasilan secara finansial selalu diembel-embeli dengan kecurigaan bagaimana uang itu diperoleh. Seorang janda apalagi bila usianya masih muda, memikul beban psikologis yang lebih berat lagi.

Di film-film maupun sinetron, janda seringkali digambarkan sebagai wanita pengganggu dan perusak rumah tangga orang, tukang morotin duit, dan perayu lelaki. Penggambaran peran seperti ini bisa saja punya andil dalam membentuk image seorang janda. Masih banyak orang yang memandang sinis keberhasilan yang di capai oleh seseorang berstatus janda.

Menjadi janda bukanlah pilihan, itu adalah takdir yang memang harus dijalani oleh seseorang. Kalau bisa memilih takdir, tentu mereka lebih bahagia bila hidup bersama pasangan. Hidup dalam suatu keluarga yang utuh, dipimpin oleh seorang lelaki sebagai kepala rumah tangga. Nasib mengantarkan mereka menjadi janda. Bercerai karena kematian maupun karena sebab-sebab yang lain. Posisi wanita yang bercerai tetap saja lemah dimata masyarakat. Kehancuran rumah tangga seringkali hanya dibebankan kepada kegagalan isteri mengelola rumah tangganya. Ketika suami jelas-jelas berselingkuhpun, kesalahan tetap dibebankan kepada istri yang tidak bisa melayani suami. Inilah system patriarki yang menempatkan laki-laki pada posisi terhormat di banding wanita.

Diskriminasi gender yang masih saja terjadi di masyarakat kita ini sudah seharusnya kita ubah. Zaman sudah maju, kesetaraan gender membuat siapapun bisa berhasil di bidangnya.Banyak wanita yang sukses dalam karir maupun dalam mendidik anak-anaknya meskipun berstatus single parent.

Setiap orang punya masa lalu yang belum tentu mereka kehendaki. Salah dan khilaf adalah takdir manusia sebagai mahluk yang tak sempurna. Yang terpenting bagaimana pribadi seseorang saat ini. Itu yang bisa menjadi pedoman kita dalam mencari pasangan. Janda berakhlak baik tentu sangat layak untuk dinikahi, begitu saranku kepada temanku ini. Selamat menempuh hidup baru kawan….

Senin, 19 September 2011



Pagi menjelang, matahari mulai bersinar terik. Cahayanya masuk melalui kisi-kisi jendela kamarku. Kulirik jam disudut sana, jam 06.00 tepat, hmm masih pagi untuk ukuran hari Minggu. Hari ini ingin rasanya leyeh-leyeh di rumah tanpa diganggu rutinitas harian. Kalau bukan karena kewajiban menyediakan sarapan buat suamiku enggan rasanya beranjak dari tempat tidur. Bang Jamal suamiku, hari ini masuk kantor karena harus menyelesaikan suatu pekerjaan.
Beringsut kedapur dengan rasa malas, kupanaskan air dan roti. Beberapa menit kemudian sarapan pun sudah siap dimeja. Kudengar suara air dari kamar mandi. “ Bang, sarapannya sudah aku siapkan diatas meja”, teriak ku. Akupun bergegas kembali ke kamar. Suara HP bang jamal terdengar berkali-kali,kulihat di layar,terpampang nama Dini. Teman bang Jamal yang satu ini lumayan ku kenal juga maka kuberanikan diri mengangkat telepon nya.
“Halo, Dini ya, bang jamal nya lagi mandi bentar lagi juga beres”.jawab ku.
“oh iya mbak maaf ganggu, Cuma mau ingetin bang jamal jangan sampai kesiangan, soalnya banyak yang harus di selesaikan, thanks ya, suara manja dari seberang sana menjawab.
Setelah berbasa-basi sejenak, Dini pun menutup teleponnya. Aku masih termangu disini, sambil memegang telepon. Tiba-tiba rasa cemburu begitu membuncah dalam dadaku. Suara manja serak-serak basah Dini memang terdengar sangat seksi. Jauh sekali dengan suaraku yang cempreng menyakitkan telinga.
“Dari siapa Ra”? Suara Bang jamal tiba-tiba mengagetkan ku
“Eh ehh dari Dini, katanya jangan sampai telat”, sahutku dengan gugup.
Tak lama Bang Jamal pun berangkat. Tak lupa dia mengecup keningku, “ pergi dulu ya Ra, serunya datar.
Suara motor Bang Jamal semakin menghilang dari pendengaran. Aku masih termangu-mangu di teras depan rumah.
Dini teman sekantor bang Jamal, Mereka sahabat yang sangat akrab sejak SMA, kemana-mana selalu berdua,sampai sekarang merekapun sekantor. Selain Dini ada juga sahabat karibnya yang lain bernama Mas Jefri, mereka sering kumpul-kumpul.
Kedekatan diantara mereka sering membuatku cemburu. Namun Bang Jamal selalu bisa meyakinkan hatiku bahwa tidak ada apa-apa diantara Dini dan dirinya. Hubungan mereka sudah seperti kakak dan adik. Dini memang wanita yang cantik dan manja.Wanita manapun pasti akan cemburu melihatnya. Sifatnya yang ceria selalu membawa keriangan diantara sahabat-sahabatnya. Persahabatan mereka tampaknya memang benar-benar tulus.
Teringat perjumpaan awalku dengan Bang Jamal
Entah bagaimana aku bisa jatuh cinta dengan lelaki seperti Bang Jamal. Yang kutahu saat itu aku dikejar deadline oleh ibuku untuk segera menemukan jodohku karena adik ku akan segera menikah. Bang Jamal di kenalkan oleh seorang rekan di kantorku, yang tak lain adalah kakak iparnya. Rekomendasi dari temanku inilah yang akhirnya mempertemukan kami dalam tali pernikahan. Tingkahnya yang klamar-klemer macam perempuan sebenarnya bikin aku ilfil tapi sifatnya yang baik menutupi semua ketidaksempurnaan fisik yang ada padanya.Merasa diri bukan wanita cantik, akupun bisa menerima semua kekurangan yang ada pada dirinya.
Malam pertama kami lalui dengan luar biasa, malam kedua, malam ketiga sampai beberapa bulan kemudian. Bang Jamal tidak pernah lagi menjamahku. Perlahan tapi pasti kehangatan nya mulai berkurang. Di hari-hari berikutnya, selalu begitu, Bang Jamal tidak pernah mengambil inisiatif duluan. Selalu aku yang berperan. Dalam hati akupun sangat kecewa dengan nya namun, aku tetap ikhlas menjalaninya hingga hampir setahun ini.. Hati kecilku sebenarnya agak curiga dengan perangai nya ini. Aku yakin sekali ada hal yang disembunyikan dariku. Naluri seorang isteri pun segera muncul, suamiku tampaknya punya wanita idaman lain.Kadang dalam beberapa kesempatan aku mencoba menanyakan nya. Tapi Dia tidajk pernah memberi jawaban yang pasti. Malah terkesan menghindari topik itu.
Diluar urusan ranjang, kami berdua sebenarnya sangat bahagia menikmati hari-hari. Bang Jamal selalu punya cerita yang menarik untuk diceritakan sepulang kerja ataupun di waktu senggang kami.
Hingga pagi ini, tiba-tiba mataku dikejutkan oleh sesuatu yang menyembul dari keresek hitam yang ada di jaket suamiku. Jaket yang agak basah ini, kemarin di pakainya dan pagi ini aku bermaksud mencucinya. Kutarik bungkusan tersebut. Isinya 5 keping DVD bajakan dengan gambar yang membuat jantungku serasa copot.
“ Astagfirullah, kulihat gambar-gambar yang ada dalam sampul DVD tersebut. Melihatnya membuat perutku seketika mual. Namun rasa penasaran membuatku segera masuk kekamar. Kunyalakan DVD player dan kuputar cakram itu. Apa yang kusaksikan membuatku benar-benar muntah. Gambar yang ditampilkan adalah adegan-adegan percintaan lelaki dewasa. Jika percintaan nya antara lelaki dan wanita mungkin tidak akan membuatku semual ini. Yang kusaksikan adalah adegan-adegan percintaan diantara sesama lelaki. 5 keping CD dengan tema yang sama. Ku bongkar semua koleksi DVD di laci mejanya yang selalu terkunci rapat. Berpuluh-puluh keping film sejenis kutemukan di dalamnya.
Teringat kemudian kejadian-kejadian beberapa bulan ini yang membuatku semakin curiga. Di baju kerja nya kerap aku temukan bulu-bulu pendek dan agak tebal, yang kalau aku perhatikan tampak nya seperti kumis. Tapi suamiku kan tidak berkumis,darimana kumis itu berasal? Bagaimana kumis itu sampai menempel di bajunya? Bukan Cuma sekali ini aku menemukannya. Bau rokok yang menyengat juga kerap tercium dari bajunya padahal dia bukan seorang perokok. Ahh tapi asap rokok kan bisa saja menempel dari orang-orang disekitarnya yang perokok, tapi bagaimana dengan kumis itu?
Tiba-tiba teringat oleh ku wajah macho mas Jeffri dengan postur tubuh ynag tinggi besar dan kumis melintang. Tangan kekar nya yang selalu merangkul Bang Jamal ku ketika mereka berjalan beriringan.
Mendadak mataku berkunang-kunang, Tubuhkupun melunglai……………………………