Sabtu, 24 Agustus 2013



                                   
MAMA


“Mengapa mama tidak menikah lagi saja ma? Suatu kali kutanyakan
Mama tersenyum,”rasanya lebih enak seperti sekarang saja, lebih bebas”, Jawabnya santai.
Mama menikah pada usia yang sangat muda.  SMA kelas 2 mereka terpaksa menikah, karena saat itu mama sudah hamil duluan. Selanjutnya aku lebih sering diasuh oleh nenek. Sebagai seorang remaja, saat itu, mama dan papa memang sangat tidak siap untuk berkeluarga. Tak heran jika usia pernikahan merekapun tidak berjalan lama. Waktu umurku lima tahun, mereka bercerai. Mama kemudian bekerja di Jakarta, sedangkan aku tinggal bersama nenek di Bandung.
Tak banyak yang kuketahui aktivitas mama di Jakarta. Sesekali, mama datang ke Bandung bersama seorang lelaki yang berbeda-beda. Entah kekasihnya atau sebatas teman saja aku tidak pernah menanyakannya. Aku jauh lebih sayang kepada nenek daripada mama. Namun setelah nenek meninggal dan aku menikah, kedatangan mama sangat aku harapkan. Bukan saja karena dia satu-satunya keluarga yang kumilki tapi juga karena mama adalah teman curhat yang asik. Bermacam masalah sering aku ceritakan dari mulai pekerjaan kantor, anak sampai urusan mas Har, suamiku.
                                                                        *****
Mas Har semakin dingin saja sekarang, Ma? Tanyaku pada suatu hari.
Mama tersenyum, “oh ya, kamu sudah pernah tanyakan kenapa?
“Hmmm belum sih”
“mungkin dia terlalu lelah bekerja”
“Ah, kan dari dulu juga dia bekerja seperti itu, jawabku sambil mengunyah potongan pisang goreng ketiga buatan mama.
Mama menahan tanganku yang akan mengangkat pisang goreng ke empat.
“inilah masalahnya Rin!
Apa masalahnya Ma?
“Lihat tubuh mu? Kamu masih muda, tapi udah kendor dimana-mana”
“Kamu lihat body mama nih”, mama berdiri sambil melenggak-lenggokan tubuh sintalnya. Di usia empat puluhan, mama memang masih terlihat cantik. Tubuhnya padat berisi, karena memang rajin berolahraga. Rambutnya indah tergerai persis seperti iklan-iklan shampoo di TV. Kulitnya putih bersih dan terawat. Tiba-tiba saja aku merasa iri dengan semua kecantikan mama.
 Ucapan mama serasa menggedor hatiku yang paling dalam. Aku berdiri, mendekatkan diri ke cermin. Aku memang hampir tak kenal pada sosok di cermin itu.

                                                                        *******
Kedatangan mama sangat membantu kesibukanku sehari-hari. Paling tidak, ada orang yang membantuku mengasuh Dinda, anak semata wayangku. Aku dan mas Har bekerja, sehingga mengurus rumah tangga merupakan satu hal yang sangat merepotkan buat kami. Pagi hari kami harus mengantar Dinda dulu kesekolah, baru kemudian pergi ketempat kerja masing-masing.
Setelah obrolanku dengan mama sore itu, aku selalu cemburu jika melihat mas Har rapi dan wangi. Apalagi dia bekerja disebuah toko swalayan yang sebagain besar karyawannya adalah perempuan.
                                                                        ******
Pagi itu, baru saja aku sampai di kantor. Komputer baru saja aku nyalakan. Namun tiba-tiba saja tubuhku mengigil dan kepalaku pusing. Beberapa bulan ini, setiap akan datang bulan, gejala ini selalu kurasakan.
“kamu pulang saja Rin, wajah kamu pucat banget, sebaiknya kamu ke dokter”
“iyy ya pak, saya izin pulang saja”
Jam baru menunjukan jam 10 pagi ketika aku sampai dirumah. Kondisi rumah sepi, tapi sayup-sayup kudengar ada suara-suara aneh dari dalam kamarku. Kuurungkan untuk membuka kunci pintu depan.
 Aku memutar kesamping rumah. Aku mengendap-endap kesamping kamarku. Suara-suara desahan kudengar semakin keras dari dalam sana. Hatiku mendidih, dadaku bergemuruh,gigiku gemeretak menahan amarah. Kuintip dari balik tirai yang sedikit terbuka dari samping kamarku.
Kudekatkan wajahku pada kaca jendela.  Aku terbelalak tak percaya, disana kusaksikan mas Har sedang bercumbu dengan seorang wanita. Melihat potongan rambut dan bentuk tubuhnya, rasanya wanita itu tak asing buatku.
Lututku lemas Jantungku serasa berhenti ketika wanita itu, menyibakkan rambutnya dan  menengok kearahku……




Senin, 14 Januari 2013

Aku terbangun di subuh yang dingin menusuk tulang. Diatas sebuah ranjang bertabur bunga melati. Disampingku tertidur pulas seorang lelaki gendut bertelanjang dada.Tubuhnya Cuma ditutupi kain sarung sebatas lutut. Dengkurnya terdengar dalam irama yang teratur. Segurat senyum tampak diwajahnya yang bulat.
Aku menarik selimut menutupi tubuhku yang telanjang. Menatap langit-langit kamar yang masih berhiaskan aneka bunga dan pita. Disudut kamar tampak rangkaian bunga sedap malam dan aster menebarkan harum yang semerbak ke seluruh ruangan.,Dekorasi kamar yang sama, seperti yang kulihat dulu. Tak pernah terbayangkan jika pada akhirnya aku harus menikah dengan lelaki disampingku ini. Lelaki yang malam tadi mengkhatamkan hasratnya yang menggelora. Dalam Sebuah pertautan halal yang di telah disahkan oleh agama dan negara. Aku pasrah dalam rangkulnya, membiarkannya menelusuri setiap lekuk ditubuhku. Deru nafasnya terasa panas di wajahku, membisikan kata-kata bersalut madu. Akupun meluruh dalam pusaran nafsu hingga tak sadar ketika kancing-kancing bajuku sudah terlepas satu-satu, Sampai dia menuntaskan dahaganya, melenguh lalu tergolek lemas disampingku. Namun masih saja ada rongga kosong dalam hati ini. Benarkah keputusan yang kuambil ini. Lelaki itu baru bisa memiliki tubuhku saja tapi tidak jiwa ku. Aku terkapar dalam jiwa yang kering, terombang ambing dalam kebahagiaan semu. Itulah pertautan ku yang pertama sekaligus terakhir dengan lelaki itu. Hari selanjutnya kami hidup dalam satu atap namun tidak pernah lagi melakukannya. Aku selalu menolaknya dengan berbagai macam alasan. Malam pertama dengannya itu kuanggap hanya sebuah kekhilafan. Teringat pernikahan pertamaku beberapa tahun lalu. Kini bayang-bayang kegagalan itupun kembali menghantuiku. Dulu pernah kurajut kasih bertahun-tahun sampai berujung dipelaminan tapi sayang nya langsung berantakan dalam hitungan sebelah jari tangan. Apalagi kini denganlelaki yang kurasa asing bagi perasaanku.

                                                                              *************

“dulu kamu menikah dalam usia yang masih labil nduk, belum matang secara mental” ibu mengingatkanku pada suatu sore yang temaram diteras depan rumah. “Saat ini kamu sudah lebih dewasa, seharusnya kamu bisa lebih bijaksana dalam bertindak dan bersikap. Ada banyak hal kesalahan besar yang kamu lakukan pada suami mu dulu, jangan lagi kamu lakukan pada suamimu yang sekarang, sudah saatnya kamu berubah”. Aku tertunduk mencoba meresapi kata-kata ibu. Saat itu aku tak tahu harus berbuat apa, semua berjalan biasa saja sama seperti kami belum menikah. Tidak pernah sekalipun aku memasak. Lebih banyak suamiku yang pulang kerja membawa makanan dalam kantung-kantung kresek. Kami sama-sama sibuk bekerja sehingga hampir tak sadar akan status kami yang sudah menikah. Pada awalnya semua berjalan biasa saja, baru kemudian riak-riak itu muncul. Meletus emosi kami berdua sampai satu saat perpisahan adalah jalan terbaik yang harus kami tempuh. Ego dan emosipun akhirnya mengalahkan akal sehat dan cinta yang pernah kami bina bertahun-tahun. Ada sejumput penyesalan dalam relung hatiku yang paling dalam, kami berdua sama-sama terluka namun terlalu gengsi untuk sekedar menyatakan penyesalan dan sepatah kata maaf. Kini di pernikahan yang kedua, semua tak juga berubah. Apalagi pernikahan ini memang hanya untuk mencari status. Sebutan janda sangat tidak nyaman kurasakan, hingga suatu saat seorang perjaka tua melamarku. Tak ada rasa cinta dihati ini, hanya ada sejumput kekaguman akan kegigihannya mendekatiku. “ Maaf saja, aku tidak bersedia, Aku tidak mencintai mu mas”, jawabku ketika pertama kali dia melamarku. Dia hanya tersenyum, “ Aku akan menunggu sampai kamu mencintaiku”, jawabnya tegas. Tahun berjalan, aku jatuh bangun membina hubungan dalam lingkaran setan pacaran yang tak berujung. Sementara usiaku semakin bertambah, belum ada seorang pun yang tampaknya serius melanjutkan ke jenjang pernikahan. Sementara disana ada seorang lelaki yang begitu setia menungguku. Hingga akhirnya di usahanya yang kesekian kali, aku meluruh, “baiklah aku bersedia, tapi dengan syarat, mas tidak boleh banyak menuntut. Aku tidak mau banyak diatur, bagaimana? “Baik, terserah kamu, yang penting kamu mau menikah denganku. Aku sangat mencintaimu Arini”. Biarkanlah bibit cinta ini mencari jalannya, aku akan menyiraminya agar suatu saat bermekaran dalam hati mu”. Jauh di dalam hatiku aku tersentuh oleh semua kata-kata dan sikapnya.

                                                                                  *********  

Mas Bram sudah berangkat kerja dari subuh tadi. Ketika merapikan tempat tidur, kudapati sebuah kotak kado kecil dan selembar surat di bawah bantal. Dear Arini, Terima kasih atas segala pengorbanan mu selama ini. Aku tahu sulit memang hidup bersama orang yang tidak kamu cintai. Namun aku masih berharap cinta akan tumbuh dihati kamu seberapa besarnyapun itu. Aku akan terus menunggu dan memupuk rasa itu agar semakin bertambah. Berharap dan selalu berdoa semoga suatu hari nanti kamu akan mencintaiku sebesar aku mencintaimu. Oh ya ada satu hadiah kecil buat kamu, semoga kamu suka. Happy Anniversary Honey. Aku terhenyak sejenak, mataku terasa panas, setitik butiran bening jatuh dari mataku tanpa sanggup aku cegah. Entah mengapa tiba-tiba saja perasaan bersalah membuncah dalam dadaku. Nafasku terasa sesak, betapa kejam nya aku ini. Satu tahun sudah aku menyianyiakan orang yang sangat mencintaiku. Aku segera beranjak bangun dari tempat tidur. Aku bertekad akan mencintai suamiku dengan segenap jiwa ragaku. Sudah cukup rasanya benteng yang kubangun selama satu tahun ini. Sebaris pesan kukirimkan via BBM, “mas pulang sore ya, aku ingin merayakan hari jadi kita, Love You “ Inilah pertama kalinya aku menuliskan kata love you pada pesan yang kukirim. Hatiku serasa berbunga-bunga. Tiba-tiba saja rasa kangen muncul dalam hatiku, menyingkirkan semua keegoanku selama ini.

                                                                                       ******  

Seharusnya sore ini menjadi hari yang indah buat hubunganku dengan mas Bram, tapi takdir ternyata berkata lain. Sebuah truk tronton, menyerempet motor nya hingga terpelanting. Aku menjerit sejadi-jadinya melihat jasad nya terbujur kaku di depanku. Setangkai mawar merah dibalik jaketnya membuat hatiku semakin teriris. Aku bersimpuh merapalkan selaksa kata maaf dan berjuta penyesalan. Seulas senyum bahagia tampak di wajahnya yang pucat. “Mengapa kamu harus pergi disaat cinta itu datang padaku mas? Seruku lirih.

Rabu, 25 Juli 2012

  
Pendahuluan
Anak usia dini berada dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan yang paling pesat, baik fisik maupun mental (Suyanto, 2005: 5). Maka tepatlah bila dikatakan bahwa usia dini adalah usia emas (golden age), di mana anak sangat berpotensi mempelajari banyak hal dengan cepat. Penyelenggaraan sekolah Taman Kanak – kanak (TK) atau Raudhatul Athfal (RA) menurut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Tahun 2004 berfokus pada peletakan dasar – dasar pengembangan sikap, pengetahuan, ketrampilan, dan daya cipta sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak (Megawangi, 2005 : 82). Maka sebaiknya pendidikan Taman Kanak – kanak (TK) janganlah dianggap sebagai pelengkap saja, karena kedudukannya sama penting dengan pendidikan yang diberikan jauh di atasnya.
Pentingnya mengenyam pendidikan TK juga ditunjukkan melalui hasil penelitian terhadap anak – anak dari golongan ekonomi lemah yang diketahui kurang memperoleh rangsangan mental selama masa prasekolah, ternyata pendidikan selama 10 tahun berikutnya tidak memberi hasil yang memuaskan (Adiningsih, 2001 : 28).
Beberapa tahun belakangan ini pun, banyak sekolah dasar, terutama sekolah dasar favorit yang memberikan beberapa persyaratan masuk pada calon siswanya. Sekolah ini mengadakan tes psikologi dan mensyaratkan anak sudah harus bisa membaca (Andriani, 2005 : 1). Dampaknya, orangtua pun meyakini bahwa sebelum masuk sekolah dasar, putra – putrinya harus menguasai ketrampilan tertentu. Akhirnya mereka merasa pendidikan TK merupakan suatu prasyarat masuk sekolah dasar.
Di satu sisi, membaca bukanlah tujuan yang sebenarnya dari penyelenggaraan pendidikan TK, namun di sisi lain hal ini justru menambah daftar alasan mengapa belajar membaca sejak TK itu penting. Corak pendidikan yang diberikan di TK menekankan pada esensi bermain bagi anak – anak, dengan memberikan metode yang sebagian besar menggunakan sistem bermain sambil belajar. Membaca merupakan sarana yang tepat untuk mempromosikan suatu pembelajaran sepanjang hayat (life long learning). Mengajarkan membaca pada anak berarti memberi anak tersebut sebuah masa depan, yaitu memberi teknik bagaimana cara mengekplorasi “dunia” mana pun yang dia pilih dan memberikan kesempatan untuk mendapatkan tujuan hidupnya (Bowman, 1991: 265). Penelitian di Negara maju pun menunjukkan sebaliknya, bahwa lebih dari 10% murid sekolah mengalami kesulitan membaca, yang kemudian menjadi penyebab utama kegagalan di sekolah (Yusuf, 2003 : 69).
Melihat dampak yang akan dihasilkan dari kegagalan pengajaran membaca, dirasakan bahwa kemampuan membaca perlu dirangsang sejak dini. Namun, membaca bukanlah suatu kegiatan pembelajaran yang mudah. Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan anak dalam membaca. Secara umum, faktor – faktor tersebut datang dari guru, anak, kondisi lingkungan, materi pelajaran, serta metode pelajaran (Sugiarto, 2002). Faktor – faktor tersebut terkait dengan jalannya proses belajar membaca, dan jika kurang diperhatikan hal tersebut dapat mempengaruhi keberhasilan membaca pada anak.
Definisi Membaca
Membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekadar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif Sebagai proses visual membaca merupakan .proses menerjeniahkart simbol tulis (hurut) ke dalam kata-kata lisan. Sebagai suatu proses berpikir, membaca mencakup aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, membaca kritis, dan pemahaman kreatif Pengenalan kata bisa berupa aktivitas membaca kata-kata dengan menggunakan kamus (Crawley dan Mountain, 1995).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999: 623), “kemampuan”berarti kesanggupan atau kecakapan. “Membaca” berarti melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis, atau mengeja dan melafalkan apa yang tertulis (KBBI, 1999,: 72). Petty dan Jensen (Ampuni, 1998: 16) menyebutkan bahwa definisi membaca memliki beberapa prinsip, di antaranya membaca merupakan interpretasi simbol – simbol yang berupa tulisan, dan bahwa membaca adalah mentransfer ide yang disampaikan oleh penulis bacaan. Maka dengan kata lain membaca merupakan aktivitas sejumlah kerja kognitif termasuk persepsi dan rekognisi. Terdapat beberapa tahap dalam proses belajar membaca. Initial reading (membaca permulaan) merupakan tahap kedua dalam membaca menurut Mercer (Abdurrahman, 2002: 201).
Tahap ini ditandai dengan penguasaan kode alfabetik, di mana anak hanya sebatas membaca huruf per huruf atau membaca secara teknis (Chall dalam Ayriza, 1995: 20). Membaca secara teknis juga mengandung makna bahwa dalam tahap ini anak belajar mengenal fonem dan menggabungkan (blending) fonem menjadi suku kata atau kata (Mar’at, 2005: 80). Kemampuan membaca ini berbeda dengan kemampuan membaca secara formal (membaca pemahaman), di mana seseorang telah memahami makna suatu bacaan. Tidak ada rentang usia yang mendasari pembagian tahapan dalam proses membaca, karena hal ini tergantung pada tugas – tugas yang harus dikuasai pembaca pada tahapan tertentu. Menurut Depdikbud tahun 1986 (dalam Ayriza, 2005 : 85), Chaer (2003: 204), serta Purwanto dan Alim (1997 : 35), huruf konsonan yang harus dapat dilafalkan dengan benar untuk membaca permulaan adalah b, d, k, l, m, p, s, dan t. Huruf – huruf ini, ditambah dengan huruf – huruf vokal akan digunakan sebagai indikator kemampuan membaca permulaan, sehingga menjadi a, b, d, e, i, k, l, m, o, p, s, t, dan u. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian kemampuan membaca permulaan mengacu pada kecakapan (ability) yang harus dikuasai pembaca yang berada dalam tahap membaca permulaan. Kecakapan yang dimaksud adalah penguasan kode alfabetik, di mana pembaca hanya sebatas membaca huruf per huruf, mengenal fonem, dan menggabungkan fonem menjadi suku kata atau kata.
Pembaca yang efektif rnenggunakan berbagai strategi membaca yang sesuai dengan teks dan konteks dalam rangka mengonstruk makna ketika membaca. Strategi ini bervariasi sesuai dengan jenis teks dan tujuan membaca. Membaca adalah interaktif. Keterlibatan pembaca dengan teks tergantung pada konteks. Orang yang senang membaca suatu teks yang bennanfaat, akan menemui beberapa tujuan yang ingin dicapainya, teks yang dibaca seseorang harus mudah dipahami (readable) sehingga terjadi interaksi antara pembaca dan teks (Rahim,2011:3)
Tujuan umum pengajaran membaca permulaan
Pengajaran membaca permulaan, menurut Soejono (Lestary, 2004: 12) memiliki tujuan yang memuat hal – hal yang harus dikuasai siswa secara umum, yaitu: a. Mengenalkan siswa pada huruf – huruf dalam abjad sebagai tanda suaraatau tanda bunyi. b. Melatih ketrampilan siswa untuk mengubah huruf – huruf dalam katamenjadi suara. c. Pengetahuan huruf –huruf dalam abjad dan ketrampilan menyuarakanwajib untuk dapat dipraktikkan dalam waktu singkat ketika siswa belajar membaca lanjut.

Tahapan proses belajar membaca
Grainger (2003:185) menyebutkan adanya tiga tahapan dalam proses membaca. Tahap prabaca dapat dilihat dari kesiapan anak untuk memulai pengajaran formal dan tergantung pada kesadaran fonemis anak. Anak yang dinyatakan siap (biasanya pada anak – anak yang baru memasuki usia prasekolah) kemudian akan melalui tahap pertama dalam proses membaca. Tahap pertama adalah tahap logo grafis, anak – anak taman kanak – kanak atau awal kelas 1 menebak kata – kata berdasarkan satu atau sekelompok kecil huruf sehingga tingkat diskriminasi sangat buruk. Kemudian setelah mendapat pengajaran, diskriminasi menjadi lebih baik. Anak dapat membedakan kata yang sudah dan belum dikenal, namun mereka belum dapat membaca kata – kata yang belum dikenal. Tahap kedua adalah tahap alfabetis, pada tahap ini pembaca awal memperoleh lebih banyak pengetahuan tentang bagaimana membagi kata-kata ke dalam fonem-fonem dan bagaimana merepresentasikan bunyi-bunyi yang mereka baca dan eja dengan ortografi alfabet. Tahap ketiga dilalui ketika anak sudah lancar dalam proses dekoding. Anak pada tahap ini mampu memecahkan kata – kata yang beraturan dan tak beraturan dengan menggunakan konteks. Biasanya tahap ini berlangsung ketika anak berada pada pertengahan sampai akhir kelas 3 dan kelas 4 sekolah dasar. Mercer (Abdurrahman, 2002:201) membagi tahapan membaca menjadi lima, yaitu: a. Kesiapan membaca. b. Membaca permulaan. c. Ketrampilan membaca cepat. d. Membaca luas. e. Membaca yang sesungguhnya.
Chall (Ayriza, 1995: 20) menyatakan bahwa tahap pertama membaca adalah tahap membaca permulaan yang ditandai dengan penguasaan kode alfabetik. Tahap kedua adalah tahap membaca lanjut di mana pembaca mengerti arti bacaan.

Metode pengajaran membaca

Abdurrahman (2002 : 214) mengemukakan metode pengajaran membaca, bagi anak pada umumnya, antara lain: 1) Metode membaca dasar. Metode membaca dasar pada umumnya menggunakan pendekatan eklektik yang menggabungkan berbagai prosedur untuk mengajarkan kesiapan, perbendaharaan kata, mengenal kata, pemahaman, dan kesenangan membaca. Metode ini umumnya dilengkapi rangkaian buku yang disusun dari taraf sederhana hingga taraf yang lebih sukar, sesuai dengan kemampuan atau tingkat kelas anak – anak. 2) Metode fonik. Metode fonik menekankan pada pengenalan kata melalui proses mendengarkan bunyi huruf. Pada mulanya anak diajak mengenal bunyi – bunyi huruf, kemudian mensintesiskannya menjadi suku kata dan kata. Bunyi huruf dikenalkan dengan mengaitkannya dengan kata benda, misanya huruf “a” dengan gambar “ayam”. Dengan demikian, metode ini lebih bersifat sintesis daripada analitis. 3) Metode linguistik. Metode linguistik didasarkan atas pandangan bahwa membaca adalah proses memecahkan kode atau sandi yang berbentuk tulisan menjadi bunyi yang sesuai dengan percakapan. Anak diberikan suatu bentuk kata yang terdiri dari konsonan – vokal atau konsonan – vokal – konsonan, seperti “bapak” atau “lampu”. Kemudian anak diajak memecahkan kode tulisan itu menjadi bunyi percakapan. Dengan demikian, metode ini lebih bersifat analitik daripada sintetik. 4) Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik). Metode ini pada dasarnya merupakan perpaduan antara metode fonik dan linguistik. Perbedaannya adalah jika di dalam metode linguistik kode tulisan yang dipecahkan berupa kata, di dalam SAS berupa kalimat pendek yang utuh. Metode ini berdasarkan asumsi bahwa pengamatan anak mulai dari keseluruhan (gestalt) dan kemudian ke bagian – bagian. 5) Metode alfabetik. Metode ini menggunakan dua langkah, yaitu memperkenalkan kepada anak berbagai huruf alfabetik dan kemudian merangkaikan huruf – huruf tersebut menjadi suku kata, kata, dan kalimat. 6) Metode pengalaman bahasa. Metode ini terintegrasi pada perkembangan anak dalam ketrampilan mendengarkan, bercakap – cakap, dan menulis. Bahan bacaan yang digunakan didasarkan atas pengalaman anak. Metode Peneltian Untuk mengetahui sejauh mana proses membaca permulaan ini sudah sesuai atau belum dengan teoari-teoari yang telah dikembangkan oleh para ahli. Penulis melakukan suatu penelitian dengan menggunakan metode survey. Suyvey dilakukan dengan cara penggunaan angket atau kuesioner. dengan metode penunjang antara lain: observasi, wawancara, dan pengukuran langsung. Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengadakan komunikasi secara tertulis dengan sumber data. Data yang ingin dikumpulkan dijabarkan dalam bentuk pertanyaan tertulis dan responden memberi jawaban secara tertulis pula  

Penutup
Masa anak – anak adalah masa bermain. Karenanya Pendidikan Anak Usia Dini dirancang untuk mengembangkan sistem belajar sambil bermain. Maka sebaiknya orangtua tidak terlalu memaksakan suatu metode belajar kepada anak sebagai alat untuk mencapai harapan pribadi. Suatu paksaan terhadap anak akan berdampak buruk, dan anak tentunya akan lebih menikmati apapun materi yang diajarkan jika diberikan secara menyenangkan dan dalam suasana yang akrab. Perancangan suatu metode membaca yang lebih memperhatikan kebutuhan dan faktor perkembangan anak dapat menjadi masukan bagi praktisi pendidikan anak usia dini. Mengingat tuntutan pendidikan dasar yang mewajibkan anak mampu membaca dan menulis saat masuk Sekolah Dasar seringkali membuat orangtua memandang rendah peranan pendidikan usia dini. Walaupun sebenarnya membaca dan menulis di usia dini sama sekali bukanlah sebuah tuntutan. Pandangan yang salah kaprah semacam ini dapat diatasi dengan mengambil jalan tengah, mengajarkan membaca dengan metode yang sesuai prinsip PAUD, memberikan stimulasi membaca yang sangat memperhatikan faktor – faktor perkembangan anak dan dikemas secara menyenangkan.

Daftar Pustaka
Abdurrahman, M. 1999. Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Adiningsih, N. U. 2001. Pendidikan Anak Dini Usia. Jakarta: Rineka Cipta. Ampuni, S. 2004. Proses Kognitif dalam Pemahaman Bacaan. Buletin Psikologi,VI, Vol 2. Andriani, S. 2005. Perbedaan Efektivitas Metode Lembaga Kata serta Metode Struktural Analisis dan Sintesis (SAS) dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan. Ringkasan Skripsi. Semarang: Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Ayriza, Y. 1995. Perbandingan Efektivitas Tiga Metode Membaca Permulaan dalam Meningkatkan Kesadaran Fonologis Anak Prasekolah. Tesis. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Bowman, J. D. dan Bowman, S. R. 1991. Dalam Abdurrahman, M. 1999. Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Chaer, A. 2003. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta. Grainger, J. 2003. Problem Perilaku, Perhatian, dan Membaca pada Anak: Strategi Intervensi Berbasis Sekolah (Alih Bahasa: Enny Irawati). Jakarta: Grasindo Lestary, A. 2004. Perbedaan Efektivitas Metode Lembaga Kata dengan Alat Bantu Gambar dan Tanpa Gambar dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Anak Taman Kanak – kanak. Skripsi. Semarang: Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Megawangi, R., Dona, R., dkk. 2005. Pendidikan yang Patut dan Menyenangkan: Penerapan Teori Developmentally Appropriate Practices (DAP). Jakarta: Indonesia Heritage Foundation. Purwanto, N., dan Alim, D. 1997. Metodologi Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Jakarta: Rosda Jayaputra. Rahim, Farida, Pengajaran Membaca Di sekolah Dasar, Bumi Aksara, Jakarta. Sugiarto. 2002. Perbedaan Hasil Belajar Membaca Antara Siswa Laki - laki dan Perempuan yang Diajar Membaca dengan Teknik Skimming (12 halaman).http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/37/perbedaan_hasil_belajar_membaca.Htm diunduh tanggal 12 April 2012 Suyanto, S. 2005. Dasar – dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Hikayat. Yusuf, M. 2003. Pendidikan bagi Anak dengan Problema Belajar. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Minggu, 15 Januari 2012




Kamis, 20 Oktober 2011


Tengah malam hampir terlewati, sinar terang rembulan menyinari seisi alam. Suara-suara binatang malam riuh rendah menyambut sang dewi. Angin dingin berhembus membawa butiran-butiran embun yang mulai turun. Pucuk-pucuk pohon besar tampak melambai-lambai malas diterpa angin. Pandu, sudah bersiap-siap didepan rumahnya. Pekerjaan sebagai tukang sayur membuatnya merubah jam biologisnya. Siang tidur, malam kelayapan mencari barang dagangan. Bersama teman-teman seprofesinya Pandu menyewa mobil pickup bak terbuka yang mengantarkan mereka ke pasar induk. Menunggui belanja dan mengantarkan mereka kembali kelapak-lapak pasar tradisional.
Diteras depan rumah Pandu menunggu jemputan ditemani sang isteri. Secangkir kopi dan pisang goreng tampak hampir habis. Lilis, wanita yang dinikahinya dua tahun lalu belum juga memberinya anak. Namun itu tidak mengurangi rasa cintanya kepada wanita yang bahenol ini. Lilis adalah kembang desa, berpuluh-puluh orang mencoba melamarnya. Dari mulai bang digul juragan ayam, Pendi pegawai kelurahan sampai pak untung juragan angkot yang sudah beristeri tiga, ditolaknya. Cinta nya jatuh pada Pandu, pedagang sayur yang memang ganteng dan baik hati ini.
“bang, kok tumben jam segini jemputan abang belum datang ya?
“ iya nih, biasanya udah sampe, jangan-jangan supirnya ketiduran kali”sahut Pandu sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
“apa ngak usah dagang aja bang hari ini? “Ehmm kayaknya dingin banget bang malam ini….
Pandu menoleh ke arah Lilis. Sang isteri pun melengos sambil tersenyum malu-malu.
“he he emangnya lagi pengen? Canda nya
Lilis Cuma senyum-senyum manja, wajahnya tampak menunduk malu. Pandu mendekatkan wajahnya, bibirnya hampir menyentuh bibir Lilis….
Tidiiiiiiiiiiiittttttttt, suara klakson mobil dan teriakan kawan-kawannya dari atas mobil bak membuatnya terperanjat
.” Woiiiii terusin besok aja, sekarang dagang dulu”, suara Parto di sertai tawa ngakak teman-temannya.
“Mas pergi dulu ya Lis, tangannya menggapai sang isteri dan mencium keningnya.
“Hati- hati dijalan ya mas”. Serunya sambil tersenyum manis.
Pandu pun segera naik keatas mobil, suara riuh teman-temannya masih terdengar ketika mobil mulai berjalan.
********
Dari atas pohon gandaria sesosok tubuh tinggi besar dan berbulu dengan mata merah mengawasi kearah Lilis yang sedang membereskan gelas dan piring diteras. Air liurnya menetes-netes seperti kucing melihat seonggok ikan. Tak lama kemudian Lilis pun masuk kedalam rumah, pintu dikuncinya rapat-rapat. Deretan pohon-pohon besar disekitar rumah sering membuatnya takut bila sedang sendiri seperti ini.
Mahluk tinggi besar inipun segera turun dari kegelapan pohon gandaria, berjalan cepat menuju rumah Lilis. Tubuh besar dan berbulunya serasa sangat ringan. Tak bersuara sedikitpun,seperti hembusan angin.
Lilis baru saja merebahkan tubuhnya ketika suara Mas Pandu memanggilnya.” Lilis. Lilis tolong buka pintunya, abang di depan” suara itu begitu jelas terdengar digendang telinganya. Seperti dibisikan dari sampingnya. Dia pun segera beranjak kedepan.
“Mas, Mas Pandu pulang lagi” serunya sambil memutar anak kunci
“Iya Lis tolong bukakan pintu”
Pintu terbuka, wajah Pandu suaminya tersenyum sumringah. Tangannya segera merangkul Lilis dalam dekapannya. Bibir nya melumat bibir tipis isterinya dengan sangat bernafsu. Tangan nya mulai menggeranyangi seluruh tubuhnya. Lilis sampai tak bisa bernafas, “mas, mas, masuk dulu, pintu nya belum dikunci nanti ada orang lihat, malu mas, seru lilis dengan sedkit bingung. Tak biasanya Mas Pandu begitu benafsu mengajaknya bercinta.
Pandu membopong tubuh isteriya kedalam kamar. Tangannya yang kekar merobek bajunya, Lilis berteriak terkejut. Dalam sekejap saja seluruh pakaiannya telah sobek berserakan di atas tempat tidur. Pandu bercinta dengan sangat bernafsu. Energinya seakan tak ada habisnya. Lilis sudah megap-megap tak karuan. Selama dua tahun berumah tangga baru kali ini dia melihat sang suami bercinta dengan sangat ganas. Seperti hewan liar yang tidak makan berminggu-minggu. Namun rasa herannya tertutupi oleh kenikmatan yang menjalari seluruh tubuhnya.
Lilis terkulai lemas, tertidur pulas sampai matahari pagi meninggi. Suara salam dan ketukan dipintu membangunkannya.
“Assalamualaikun, lilis, lilis ini abang Lis,Tolong bukakan pintu” suara dari luar rumah sayup-sayup terdengar.
Dengan pikiran masih seperti orang ngelindur lilis bangun. Seluruh badannya terasa sangat sakit. Dilihatnya dicermin, bercak-bercak merah bekas gigitan dan cakaran pada dadanya. Ditutupi tubuh telanjang nya dengan sehelai kain sarung,diapun bergegas keluar dari kamar.
Dibukanya pintu perlahan. “ Mas dari mana, pagi-pagi kok udah keluar?
Pandu bingung dengan pertanyaan isterinya. “Kamu masih ngantuk ya”, tangannya segera melingkari tubuh seksi isterinya yang hanya berbalut sarung.Bibirnya mengecup bibir isterinya. Tangannya mulai bergerilya kemana-mana.
“kita lanjutin yang tadi malam ya”,bisik Pandu
“kan tadi malam sudah mas, emangnya ngak cape?
“Tadi malam? Tadi malam kan aku kepasar Lis kamu ngigau ya?
Lilis tertegun, lantas siapa yang tadi malam bercinta dengannya, terbayang bekas gigitan dan cakaran ditubuhnya, caranya bercinta, tubuhnya serasa mengigil ketakutan, bulu kuduk nyapun seketika meremang…………..

Senin, 10 Oktober 2011


Titik Api tampak mulai menyala dari lantai dua sebuah rumah mewah. Api mulai membesar dengan cepat. Asap mengepul keudara, lidah-lidah api tampak menjilati setiap sisi ruangan. Orang-orang ramai bereriak-teriak dari luar rumah. “ pak Budi, bangun pak, pak kebakaran-kebakaran, pak budi …….pak pak,” suara orang bersahut-sahutan. Riuh rendah suara warga yang berteriak-teriak.. Gerbang besi yang tertutup rapat tak memungkinkan warga untuk mendekat. Beberapa warga berinisiatif melempari pintu rumah dengan batu untuk membangunkan penghuninya. Api sudah semakin membesar namun pemilik rumah tak juga keluar.Warga semakin cemas menyaksikan api yang semakin membesar. Tak lama berselang, sirene pemadam kebakaran mulai terdengar semakin mendekat. Pintu gerbang depan akhirnya dijebol. Petugas berusaha keras menjinakan api yang semakin beringas.
Aku termangu disudut pohon ini, sambil memeluk isteri dan dua orang anakku. Si jago merah tampak mulai beringas. Potongan balok-balok diatas rumah mulai berjatuhan. Petugas agak kewalahan menjinakan api yang terus berkobar-kobar ditiup angin.
Menatap lirih pada rumah yang pernah memberiku sejuta kebahagiaan. Rumah mewah berlantai dua, dengan halaman yang luas. Sebuah tulisan besar tampak masih menempel ditembok depan rumah, DISITA OLEH BANK. Miris aku membacanya .Kutatap wajah anak isteriku sekali lagi. Guratan sisa air mata kering masih tampak disana. Sudah tidak ada lagi yang perlu di tangisi. Kebahagiaan yang utama adalah kami masih bisa berkumpul bersama. Hilang sudah kesusahan dan segala macam persoalan hidup yang melilitku.
“Hanya ini yang bisa papa lakukan untuk mempertahankan kebahagiaan kita”. Aku berguman lirih. Aku termangu menyaksikan lambang kesuksesanku itu perlahan-lahan habis dimakan api.
“Mengapa kita ada disini Yah? Tanya aldi mengagetkanku.
“Karena kita harus segera pergi nak”
“Tapi aku masih betah tinggal disini, semua teman-temenku ada disini, aku belum mau pindah yah”,wajah polosnya menyiratkan kesedihan yang mendalam.
Aku terdiam tak mampu menjawab
Kutatap isteriku dan Tya dalam gendongannya. Senyum manis di bibir mungilnya membuatku merasa sangat bahagia.
Mas, mengapa kau tega melakukan ini semua?
“Aku rela memang bila kita harus hidup miskin mas, aku isterimu, aku akan selalu ada disampingmu disaat senang ataupun susah, kau tak perlu melakukan ini”, Air matanya kembali turun membasahi pipi. Aku beringsut mendekati isteriku, kupeluk dia dengan segala kasih sayang yang tersisa.
“Tapi hutang-hutangku sudah sangat besar Vi, aku tak sanggup membayarnya.
“Tapi kita masih bisa mencari jalan lain mas”
“Jalan mana Vi, semua jalan kan sudah pernah kucoba, tapi semua nihil’
“ Setiap hari kita malah diteror oleh penagih Hutang itu”
Butuh dua jam lebih sebelum akhirnya api dapat dikendalikan sepenuhnya. Petugas bergegas masuk kedalam rumah. Ruang demi ruang disisir dengan hati-hati. Di sebuah kamar yang besar, tampak 4 onggok mayat yang sudah menghitam ditemukan dalam kondisi mengenaskan diatas tempat tidur. Sang ayah tampak memeluk anak dan isterinya. Kondisi kamar sudah porak poranda tak berbentuk.
Sesosok tubuh bocah yang sudah hangus menghitam tampak yang pertama dikeluarkan oleh dua orang petugas. Menyusul kemudian tubuh anak yang lebih kecil, dan terakhir kedua orang tuanya.
“Tapi Mengapa kau tega membawa kami semua mas? Tidak kah kau berfikir membiarkan Aldi dan Tya melanjutkan kehidupannya. Jalan mereka masih panjang, biarkan takdir mengalir sewajarnya.Mereka hanya anak-anak, mereka masih mungkin untuk melanjutkan kehidupannya?
“Maafkan aku Vi……
“Maafkan aku, aku juga sebenarnya tidak sanggup untuk melakukannya, tapi aku harus……
“Kumasukan racun itu kedalam susu yang diminum aldi dan tya, Berharap mereka tidak merasakan sakit yang terlampau berat.Demikina juga dirimu, aku meracuni makan malam mu, berharap kalian terlelap dalam mimpi panjang dan tidak merasakan sakit”.
“Aku sangat mencintai kalian semua.Aku tak sanggup bila harus sendiri, di dunia ataupun di alam lain. Biarlah kematian menjemput kita yang penting kita masih bisa bersama.”
Tapi mengapa kau masih harus membakar jasad kami?
Aku terdian sejenak, sambil menatap sisa-sisa bangunan yang mulai runtuh.
“Aku ingin agar kita secepatnya sampai di tujuan akhir kita”
Raung sirene ambulan memekik meggetarkan jiwa, Jasad-jasad hitam legam menyisakan bau daging terbakar di udara. Kantung-kantung mayat segera ditutup dan dimasukan kedalam mobil. Bersamaan dengan itu seberkas cahaya terang kulihat di kejauhan sana. Semakin lama semakin mendekat menghampiri kami. Ku gandeng anak dan isteriku. “ Ayo,nak kita harus segera pergi, ada dunia lain disana yang menjajnjikan kebahagiaan yang abadi”.

Jumat, 07 Oktober 2011


Malam sunyi dan dingin, angin bergulung-gulung meniupkan debu dan mengusir rintik hujan yang mencoba mendekat. Awan hitam menggantung, mendekap erat sang rembulan dalam pelukannya. Berpendar-pendar Cahaya suramnya tak mampu menerangi malam. Malam yang nyaris bisu dan buta. Ditengah kesunyian itu, suara emprit gantil terdengar mendirikan bulu roma.
Burung penanda kematian itu sudah datang, entah siapa yang kini akan dibawanya. Seorang gadis kecil beringgsut keluar dari rumah sambil membawa senter. Di carinya di pucuk-pucuk pohon, sosok yang sangat menakutkan itu. Disana, di pucuk pohon belimbing tampak seekor burung kecil sedang asik bernyanyi lirih. Gadis itu mengambil batu sekepalan tangan, dan melemparkan kearah burung tersebut. Suara gemeretak, daun dan ranting yang patah segera terdengar. Suara burung itupun segera lenyap bak ditelan bumi. Didengarkannya dengan seksama, sampai suara burung itu benar-benar sudah menghilang.
Nina, namanya, usianya belum genap delapan tahun ketika ibunya meninggal dunia karena sakit. Sejak itu dia hidup hanya berdua bersama sang ayah. Hingga kini usianya menginjak 10 tahun, ayahnya belum lagi menikah. Dirumah itu hanya ada seorang pembantu yang menyiapkan makan dan mencuci pakaian, sore hari nya si bibi ini pulang. Tinggalah bocah ini seorang diri dirumah menunggu ayahnya pulang.
Aku yang tinggal disebelah rumahnya hanya tersenyum melihat tingkah lakunya.
“Nina, lagi ngapain malam-malam diluar? Seru ku.
“ itu om, ada burung emprit gantil dari tadi bunyi terus, aku lempar pakai batu tadi supaya pergi jauh”, jawabnya.
“Om apa setiap ada burung emprit gantil itu pasti ada yang meninggal? Tanya nya dengan wajah polos.
“ he he he itu hanya mitos, kamu kan sering denger suara burung itu, bukan Cuma malam ini kan? Kadang pagi-pagi atau siang hari. Minggu lalu juga ada kan? Denger ngak? Tapi ngak ada tuh orang kampung kita yang meninggal, iya kan? Jawabku mencoba menjelaskan.
“tapi om, dulu, emprit gantil yang membawa mama, pergi”, serunya dengan mimik serius.
“ he hehe nina, itu hanya kebetulan saja, tidak ada hubungannya dengan emprit gantil”
“Tapi Nina khawatir Om, papa kok belum pulang ya, sudah jam tujuh nih, biasanya sebelum magrib sudah sampai dirumah’
“udah kamu telepon?
“sudah om, tapi dari tadi ngak nyambung-nyambung, nina jadi khawatir, apalagi denger suara emprit Gantil tadi”. Wajah polosnya membuatku tersenyum.
“ Ya sudah ditunggu aja, masih macet kali, oh ya kamu mau nunggu dirumah Om, ada sarah dan diva tuh lagi main monopoli.
“Ngak dah om, aku mau ngerjain PR dulu”,jawab nya.
“Kamu udah makan belum?
“Belum, nanti tunggu papa pulang aja, terima kasih ya Om, nina mau masuk kedalam dulu”.
Belum lama nina masuk kerumahnya, suara burung itu kembali terdengar. Memiriskan hati, senandung kesedihan yang memang membuat setiap orang merasa bergidik mendengarnya.
*****
Jam 7.15 malam, Aku duduk sambil menikmati secangkir teh hangat. Koran sore sudah hampir habis kubaca ketika Handphoneku berpendar-pendar, sebuah SMS masuk. Isteriku mengirimkan sebuah pesan, “ mas aku sudah dekat rumah, kamu mau dibelikan makanan apa? Buat anak-anak sudah aku belikan ayam tadi di Mac Di , Sop iga atau Sate bang kumis mau ngak?
Aku mengetikan sebaris kata, “ sop iga ”, jawabku singkat. Aku memang paling malas menjawab sms. Cuma kata-kata singkat saja yang biasa ku ketikan. Isteriku sudah maklum dengan kebiasaanku itu.
Teh sudah habis kuminum sampai tegukan terakhir, Koran sudah selesai kubaca sampai ke iklan-iklan nya. Ketika tiba-tiba Pak RT datang bersama seorang Polisi.
“Assalamualaikum,
“Wa alaikum salaam” jawabku, dengan seribu tanda tanya dalam diri.
Pak RT menjelaskan maksud kedatangannya. Seketika dunia seakan runtuh, mata ku berkunang-kunang,tubuhku lemas tak bertenaga. Hanya kata-kata terakhir pak RT yang masih bisa kutangkap.”istri anda mengalami kecelakaan, motornya ditabrak truk“.
Suara Emprit Gantil itu mengiang-ngiang terus dalam telingaku. Dendang kesedihan yang terus saja dinyanyikan. Lirih menusuk-nusuk hati, mengabarkan berita duka.

Catatan :
Burung Emprit Gantil : Burung bertubuh kecil ini dipercaya oleh sebagian orang sebagai burung penanda bahwa akan ada orang yang meninggal. Dijawa disebut prit gantil, ada juga yang menyebutnya burung wik wik