Selasa, 27 Agustus 2013




Dua tahun lalu Parmin hanyalah seorang buruh. Pekerjaannya tak jelas,uang yang didapat pun tak pernah cukup untuk menghidupi dia dan keluarga. Ditengah himpitan ekonomi itu seorang teman menyarankannya untuk berkonsultasi dengan seorang dukun sakti di pinggir hutan larangan. Mbah Dirja, demikian orang kampung biasa menyebutnya. Seorang lelaki bertampang menyeramkan dengan mata yang sebelahnya buta.

“jadi maksud mu hendak mencari kekayaan dengan cara gaib? Kamu sudah tau resikonya? Suara parau mbah Dirja membuka percakapan nya pada malam itu.

Parmin tertegun sejenak, ….”ehm terus terang syarat dan resikonya saya belum tau mbah, apa saja syarat nya mbah”?

“syaratnya sangat berat anak muda! Seringai mbah Dirja seakan mengejek Parmin

“ kamu harus mengawini Siluman ular yang ada di dalam hutan larangan sana”

“Saya sanggup mbah”, sahut Parmin, dengan yakin

He he he kamu bersemangat sekali cah gemblung, resikonya nyawa kamu juga bisa melayang jika kamu membuatnya marah!!

“Saya sanggup mbah” , Parmin berkata dengan penuh kesungguhan

Baiklah anak muda jika kamu sudah punya kemantapan hati, kita akan mulai ritual kita Malam Jumat depan, tepat jam 12 malam. Syarat yang harus kamu penuhi adalah siapkan kemenyan, kembang tujuh rupa, burung gagak dan seorang bayi merah.

…” bayi merah? Maksudnya bayi manusia mbah? Tanya Parmin dengan polos

Ha ha h a ha kamu pikir apa anak muda? Bayi merah yang masih hidup atau sudah mati tidak apa-apa yang penting masih segar, Kalau kau tidak sanggup kau boleh batalkan sekarang.

“Burung gagak mudah dicari di pasar burung, lalu bagaimana dengan bayi merah itu” rungutnya dalam hati, Parmin berusaha mencari jalan untuk memenuhi syarat tersebut.

Setelah mencari-cari di berbagai rumah bersalin di kota dan dukun beranak, Parmin akhirnya dapat juga seorang bayi merah yang baru saja meninggal di sebuah rumah bersalin. Proses mendapatkannya juga bukan hal yang mudah, Parmin harus berpura-pura menjadi keluarga dari bayi tersebut dengan berbagai tipu daya.

Hari yang dinanti pun tiba, Malam Jumat Kliwon, tepat jam 12 malam. Mbah Dirja dan Parmin sudah berada di dalam hutan larangan. Asap mengepul dari dupa berisi kemenyan. Mbah Dirja tampak khusyuk merapal mantra-mantra memanggil sang dewi Ular. Diatas selembar daun pisang mayat bayi terbujur kaku. Mbah Dirja memotong burung gagak dan meneteskan darahnya diatas tubuh sang bayi. Tiba-tiba dari semak belukar di belakang mereka keluar seekor ular besar. Ular bermahkota itu berjalan dengan anggun, sesaat dia menengok kearah Parmin, matanya menatap tajam kemudian melengos malu-malu.

Parmin tersentak kaget melihat ular besar itu, wajahnya seketika pucat pasi. Sebenarnya dia sudah ingin membatalkan rencana ini namun bayang-bayang kemiskinan jauh lebih menakutkan baginya. Mbah Dirja tampak berkomunikasi dengan mahluk menyeramkan itu. Tak jelas apa yang dibicarakan antara mereka. Prrmin hanya mendengar suara mendesis-desis.

Tak lama ular itu menggigit mayat bayi diatas daun pisang itu kemudian pergi diiring wangi harum dari tubuhnya.

“anak muda, sang dewi sudah berkenan menerimamu sebagai suaminya, kau tunggulah disini, tugasku sudah selesai”. Mbah Dirja pun berjalan pergi keluar dari hutan.

“Tapi mbah, apa yang harus saya lakukan nanti kalau ular itu muncul lagi?

He he he kau tunggu saja anak muda, kau akan menjadi suaminya”, suara tawa mbah dirja dari kejauahan samar-samar masih bisa didengar oleh parmin.
                                                            *********
Disebuah kota kecil 150 km jauhnya dari hutan larangan, seorang wanita hamil sedang sekarat di sebuah klinik bersalin. Sunarti isteri Parmin yang sedang hamil tua, sedang dalam penanganan dokter. Tindakan operasi segera dilakukan oleh dokter kandungan. Wajah sang dokter bergidik ngeri melihat kondisi bayi dalam kandungan Sunarti. Tubuh bayi itu tampak hancur tak beraturan.Semua tulang belulangnya patah.. Kondisi Sunarti sendiri tak kalah mengenaskannya. Banyak kehilangan darah membuat tubuhnya kian melemah. Ibu dan anak ini akhirnya tewas dengan cara mengenaskan.

********

Malam semakin mencekam, dingin serasa menusuk-nusuk tulang. Parmin sudah mulai mengantuk, ketika tiba-tiba hidungnya mencium semerbak wangi melati yang menusuk hidung. Sontak dia mencari asal wewangian tersebut. Di ujung sana tampak olehnya sesosok wanita cantik jelita berbusana seksi melambaikan tangannya. Seperti terhipnotis, Parmin pun mendekat kearah wanita tersebut. Nafsu kelelakiannyaun seketika bangkit. Akal sehatnya hilang, tak ada lagi rasa takut dihatinya. Wanita itu mencumbunya dengan dasyat. Parmin seketika kehilangan kendali, tubuhnya serasa di awang-awang. Entah kekuatan dari mana yang membuatnya merasa tidak pernah puas meski berkali-kali mengalami orgasme. Mereka bercinta hingga pagi menjelang.

Dingin pagi yang menusuk tulang membangunkannya dari tidur lelap. Kelelahan yang teramat sangat menderanya. Tulang nya serasa dilolosi satu persatu. Embun pagi bercampur dengan sisa-sisa keringat terasa lengket di tubuhnya. Tersentak Parmin segera meraba-raba sesuatu,dibawah tubuh telanjangnya. Lembaran-lembaran uang berserakan diatas daun pisang yang dia jadikan alas tidurnya. Parmin tersenyum lebar,tumpukan uang kini ada dalam genggaman tangannya. Bergegas dia membungkusnya dengan kain sarung.

‘Ha ha ha, selamat tinggal kemiskinan”, wajahnya sumringah. Hilang sudah lelah dan kantuk yang menderanya. Keluar dari hutan angker itu matahari mulai bersinar. Bibirnya tak henti bersiul dalam perjalanan yang dirasakan penuh kemenangan ini.

Teringat permainan cintanya dengan Nyi Dewi Kencana, siluman ular penunggu hutan larangan.. Wanita cantik itu benar-benar menepati janjinya. Memberikan kekayaan yang berlimpah dengan syarat Parmin mau menjadi suaminya. Setiap malam jumat, ketika bulan sedang purnama dia akan datang untuk mengajaknya bercinta.

*************

Tahun pun berganti, Kehidupan Parmin seketika berubah drastis. Dari buruh kasar yang penghasilannya tak menentu, gubuk reot dan kumuh sudah ditinggalkannya. Rumah mewah dengan deretan kendaraan Angkot berjejer di halaman rumah nya. Parmin sekarang adalah pengusaha sukses di bidang angkutan darat.

Di rumah besar itu ada sebuah kamar mewah yang khusus digunakan oleh Parmin untuk berrcinta dengan Nyi Dewi Kencana, isteri gaibnya. Dia akan datang satu bulan sekali tepat ketika purnama sedang bersinar terang. Tiga tahun sudah berlalu, Parmin sudah sangat kaya sekarang. Jauh di lubuk hatinya sesungguhnya dia sangat kesepian. Rumah besar itu hanya dihuninya seorang diri, pembantu rumahnya hanya datang pagi sampai sore hari. Selepas itu, kesunyian akan segera melingkupi rumah mewah itu. Malam ini, purnama sedang bulat sempurna, memancarkan sinarnya kepelosok bumi. Parmin duduk termangu di depan jendela kamarnya. Memandangi purnama yang begitu indahnya. Di lubuk hatinya yang terdalam ada berjuta sesal yang menggerogotinya.

Tiba-tiba semerbak wangi melati memenuhi ruangan kamarnya. Sesosok tubuh wanita cantik tampak sudah berbaring di atas tempat tidur. Paha mulusnya tampak sangat merangsang. Namun Parmin tak juga beranjak dari pinggir jendela kamarnya.

“Kang Parmin, mengapa kamu melamun kang? Apa uang yang aku berikan masih kurang? Tanya manja sang wanita. Parmin menarik nafas panjang, “ Nyi Dewi, uang yang kau berikan sudah sangat banyak, bahkan berrlebih”

“lalu mengapa kau melamun?

“Nyi, apa tidak sebaiknya hubungan kita, ….. kita akhiri sampai disini saja? Seru Parmin dengan suara perlahan.

Apa? Kau mau menceraikan aku? Hih hi hi kamu lupa dengan perjanjian kita kang?

“Tapi Nyi, aku merasa sudah tidak sangup lagi melayani mu, kau lihatlah saat ini aku sudah semakin kurus, dan aku sudah tidak sekuat dulu lagi”, seru parmin dengan memelas.

Hi hi hi hi baiklah kang, kalau begitu, tapi kamu harus melihat dulu anak kita kang”

Anak Kita?

Ya, anak yang sering aku ceritakan kepadamu itu, Dia sangat ingin berjumpa dengan mu”

Bagaimana caranya aku bisa berjumpa dengannya? Tanya Parmin

“Aku yang akan membawamu kepadanya kang..

Nyi Dewi Kencana memeluk Parmin dengan mesra, semerbak harum tubuhnya sangat memabukan setiap lelaki. Namun Parmin saat ini benar-benar sedang tidak ada selera. Dia menepis tubuh sang dewi dengan halus. Namun sang dewi tampak sedang bernafsu sekali. Tangannya kembali memeluk Parmin dengan mesra. “ Kau menolak ajakan ku kang? Tanyanya dengan suara tegas. “ maafkan aku Nyi, aku sudah tak sanggup lagi”

Nyi Dewi Kencana tersenyum. Senyum yang sangat menakutkan bagi Parmin.

“ Aku sangat mencintaimu kang” pelukannya semakin kuat, Parmin tak bisa bernafas. “A aa ampun kan aku nyi, aku minta maaf, suaranya semakin tercekat. Wajah Nyimas menyiratkan kemarahan yang sangat menakutkan. Perlahan wajahnya yang cantik jelita berubah menjadi Ular besar yang membelit rubuh parmin hingga remuk. Moncongnya yang besar segera melahap tubuh Parmin.

Rumah besar itupun segera diliputi kesunyian. Parmin hilang tak berbekas…………….








Bendera sudah terpasang, diapit  umbul-umbul aneka warna dikiri dan kanan. Semarak hari kemerdekaan selalu saja disambut antusias oleh bapak. Mantan pejuang yang selalu beceloteh  tentang heroisme meraih kemerdekaan. Tak  tehitung cerita yang masuk ketelingaku dari mulutnya. Tentang sebuah proses  panjang perjuangan merebut kemerdekaan. Jaman susah yang benar-benar tidak akan pernah ingin dilakoninya lagi. Kisah perjuangan melawan penjajah bersama teman-teman seperjuangannya. Pengorbanan nyawa, darah dan air mata demi  berkibarnya sang saka merah putih.
Hari itu, tubuh rentanya masih terlihat gagah. Seragam legium veteran yang selalu dikenakannya ketika acara peringatan hari kemerdekaan tampak rapi jali. Dia berjalan memeriksa setiap bendera yang terpasang di pinggir jalan kampungku. Membetulkan letaknya, merapikan tiang-tiangnya. Mata tua nya  masih memperlihatkan bara api semangat perjuangan.
Setelah upacara hari kemerdekaan, bapak pulang. Wajahnya terlihat agak pucat, namun  tampak sumringah. Sebuah bale bambu akhirnya menjadi perjalanan terakhirnya. Bapak menghembuskan nafas pada sebuah bale bambu usang didepan rumah. Masih mengenakan Seragam legium veteran kebanggannya. Seutas senyum bahagia masih tampak pada wajahnya.
                                                            *****
“Nak, tolong bendera merah putihnya kau pasang ya! Bendera yang benar-benar bendera merah putih, bukan merah pudar, sepudar rasa kebangsaan anak cucuku. Bukan juga putih dekil dan kotor seperti hati para pejabat saat ini”, serunya lirih.
“Bendera bukan sekedar dua buah kain berwarna yang disatukan oleh jahitan. Nilai historis, semangat, pengorbanan dan perjuangan yang tak kenal lelah yang terkandung didalamnya jauh lebih penting dari sekedar dua potong kain”.
Aku tertegun sejenak, “oh ya ya pak sahutku  sedikit gugup dan malu
Mata bapak tampak berkaca-kaca….
 “Tidak tenang rasanya kami melihat kenyataan yang ada. Kami merasa benar-benar di khianati. Perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajah asing adalah untuk meraih kemerdekaan dan kebebasan seluruh rakyat, bukan memerdekakan segelintir golongan saja”.
Lalu tiba-tiba saja suasana pertempuran berkelebatan seperti slide-slide yang diputar dalam layar bioskop. Tank-tank belanda menyerbu, suara raungan senjata mesin  memekakan telinga, deru pesawat terbang menggetarkan hati. Para pejuang merangsek, menyerbu dengan senjata seadanya. Tidak tampak rasa takut buat para pejuang yang telah menggadaikan nyawanya demi kemerdekaan ini. Desingan peluru dan ledakan bom disampingku membuatku terperanjat. Aku terbangun dengan nafas tersengal-sengal .Peluh membasahi tubuhku, akupun beringsut bangun. Aku duduk ditepi ranjang, mencoba mengingat dan memahami.  Tak lama, adzan subuh mulai berkumandang.
                                                                        *****
Semburat cahaya matahari mulai tampak di ufuk timur. Di depan rumah, sebuah bendera usang kumal tampak berkibar lelah di terpa angin. Warna merahnya sudah pudar dimakan zaman. Bendera yang kutemukan dengan susah payah, terselip bersama pakaian bekas dan kain lap.
Kupandangi bendera lusuh tersebut, perasaan sesak kurasakan dalam dada. “maafkan aku, pak! seruku lirih. Kuturunkan bendera lusuh tersebut.




Cibinong, 14 agustus 2013





Hujan baru saja usai, genangan air masih tampak dimana-mana. Sore beranjak malam. Lampu-lampu mulai menyala, membentuk cahaya-cahaya pendar melawan gelapnya malam. Pedagang kaki lima, mulai beraktivitas menyiapkan dagangannya.
Aku duduk disalah satu lapak PKL, Menikmati tepian malam yang dingin menusuk tulang. Aroma bandrek, asap rokok  dan aneka gorengan berpadu di udara. Gedung sate tampak megah diujung sana.
Ditemani segelas bandrek dan sepiring gorengan, dan riuh rendahnya muda-mudi berceloteh. Mataku tertumbuk pada sebuah gang sempit diujung sana. Di gang sempit dan bau got  itu pernah kami rajut berjuta asa, semasa kuliah dulu.. Sebongkah kenangan yang rasanya sulit untuk dilupakan. Betapa aku sangat merindukan nya pada saat-saat seperti ini. Jutaan kenangan pun kembali berkelebatan dalam kepalaku. Dari awal hingga hari-hari terakhir bersamanya.                                                                                                  
*****
Suasana lebaran, masih sangat terasa. Orang-orang ramai bersilaturahmi ke kerabat mereka. Bis jurusan Bogor itu penuh sesak. Aku berdiri disampingnya dalam suasana yang sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu. Kami pulang bersama tapi hati dan pikiran kami berjalan sendiri-sendiri. Sudah ratusan kali kami lalui jalur ini dalam suasana sukacita di mabuk asmara. Tapi tidak saat ini, Dia diam membisu dalam pengapnya bis yang diselimuti asap rokok. Aku melirik kearahnya, tatapannya kosong tak berperasaan. Aku tertunduk dalam diam, masih sesak rasanya mengingat  kata-katamu beberapa bulan  lalu.
“hubungan kita sudah tidak bisa dilanjutkan mas, sebaiknya kita berpisah saja!”
Aku tersentak kaget, “loh, memangnya kenapa?
“aku sudah tidak mencintaimu lagi, Tidak ada lagi rasa cinta dihati ini mas !”
Aku kehabisan kata-kata, ya tapi alasannya apa? Belum genap dua tahun kita menikah, kenapa kita sudah harus berpisah? Hatiku bergetar.
“mungkin bukan jodoh kita”, sahutnya dingin.
Aku terhenyak, selama menikah dengannya kurasakan jarak diantara kami memang serasa semakin hari semakin jauh.
“Terminal Bogor, Bogor, Bogor abis”
Aku tersentak dari lamunan, orang-orang bergegas turun  dari bis. Kami pun turun, “aku akan kembali ke tempat kos ku”, katanya datar. Aku terdiam,  belum sempat aku menjawab, dia sudah berlalu. Sudah satu bulan ini kami berpisah. Dia memilih untuk tinggal di tempat kos, didearah Jakarta Timur, dekat tempat kerjanya.
 Aku tersayat menyaksikan punggungnya yang  menjauh,  berjalan mantap menuju bis jurusan Jakarta.  Akupun pulang kerumah dengan perasaan kosong. Inilah perjalanan terakhirku bersamanya.
Sepanjang jalan menuju rumah, aku terhenyak di kursi pojok depan dekat supir bis. Bis bobrok ini bergerak perlahan,menimbulkan bunyi berdecit, merontokan karat dan sisa cat yang menempel.  Rentetan peristiwa berkecamuk dikepalaku, betapa aku pernah ada diatas puncak kebahagiaan, sampai terpuruk dalam kesedihan. Kami pernah tertawa dan menangis bersama,melewati berbagai peristiwa.
Diantara penumpang anonim ini,  kubayangkan dirinya  ada disana,terselip di sebuah bangku. Tangannya melambai memanggilku. Senyum lebarnya menyambutku, menuntaskan semua cerita sedih, bahwa ini semua hanya mimpi buruk. Celoteh ceria segera memenuhi ruang diantara kami.Membagikan aura cerianya hingga jauh menelusup dalam relung-relung jiwaku.
Aku tersenyum-senyum sendiri dalam tebaran bau debu dan asap knalpot yang meluruh dalam paru-paruku.. Semua ketololan ini hanya bisa dilakukan oleh seorang lelaki pengkhayal yang tak lagi mempercayai hari esok.  Biarlah waktu yang nanti mengobati luka hatimu, begitu orang bijak selalu berkata. Bayangnya akan sirna ditelan masa, memudar dalam lipatan  neuron dalam otak.
Nyatanya, tawa renyahnya masih saja menelusup dalam telingaku, binar matanya selalu muncul diantara halaman sidney sheldon yang kubaca, tersenyum dalam layar komputerku, dan seringkali muncul dalam banyak peristiwa yang kualami..
                                                            ******
Aku berdiri diujung gang, mencoba mencari sedikit rasa yang mungkin masih tertinggal. Namun hanya kekosongan yang kudapat. Dulu, setiap langkah penuh debar dan harap selalu membuncah di dadaku ketika  menapaki jalan kecil ini. Ingin rasanya kulangkahkan kaki  kedalam sana, tapi kuurungkan.
Aku hanya berdiri terpaku di depan gang dan tersenyum getir  melihat kedalam, betapa banyak sekali kenangan indah pernah kita rajut diujung jalan sana. Jutaan mimpi yang pernah coba kami  susun bersama. Disebuah rumah kos berukuran mungil yang menentramkan hati. Pada keramahan om Fritz,  pada kebaikan  hati ibu Puji dan keluarga nya, Juga pada bocah perempuan berambut keriting bermata besar yang sering menemani kami mengobrol. Biarlah kini hanya menjadi pemanis dalam  kisah hidupku dan hidupnya
Bandung, 16 Agustus 2013




Sabtu, 24 Agustus 2013



                                   
MAMA


“Mengapa mama tidak menikah lagi saja ma? Suatu kali kutanyakan
Mama tersenyum,”rasanya lebih enak seperti sekarang saja, lebih bebas”, Jawabnya santai.
Mama menikah pada usia yang sangat muda.  SMA kelas 2 mereka terpaksa menikah, karena saat itu mama sudah hamil duluan. Selanjutnya aku lebih sering diasuh oleh nenek. Sebagai seorang remaja, saat itu, mama dan papa memang sangat tidak siap untuk berkeluarga. Tak heran jika usia pernikahan merekapun tidak berjalan lama. Waktu umurku lima tahun, mereka bercerai. Mama kemudian bekerja di Jakarta, sedangkan aku tinggal bersama nenek di Bandung.
Tak banyak yang kuketahui aktivitas mama di Jakarta. Sesekali, mama datang ke Bandung bersama seorang lelaki yang berbeda-beda. Entah kekasihnya atau sebatas teman saja aku tidak pernah menanyakannya. Aku jauh lebih sayang kepada nenek daripada mama. Namun setelah nenek meninggal dan aku menikah, kedatangan mama sangat aku harapkan. Bukan saja karena dia satu-satunya keluarga yang kumilki tapi juga karena mama adalah teman curhat yang asik. Bermacam masalah sering aku ceritakan dari mulai pekerjaan kantor, anak sampai urusan mas Har, suamiku.
                                                                        *****
Mas Har semakin dingin saja sekarang, Ma? Tanyaku pada suatu hari.
Mama tersenyum, “oh ya, kamu sudah pernah tanyakan kenapa?
“Hmmm belum sih”
“mungkin dia terlalu lelah bekerja”
“Ah, kan dari dulu juga dia bekerja seperti itu, jawabku sambil mengunyah potongan pisang goreng ketiga buatan mama.
Mama menahan tanganku yang akan mengangkat pisang goreng ke empat.
“inilah masalahnya Rin!
Apa masalahnya Ma?
“Lihat tubuh mu? Kamu masih muda, tapi udah kendor dimana-mana”
“Kamu lihat body mama nih”, mama berdiri sambil melenggak-lenggokan tubuh sintalnya. Di usia empat puluhan, mama memang masih terlihat cantik. Tubuhnya padat berisi, karena memang rajin berolahraga. Rambutnya indah tergerai persis seperti iklan-iklan shampoo di TV. Kulitnya putih bersih dan terawat. Tiba-tiba saja aku merasa iri dengan semua kecantikan mama.
 Ucapan mama serasa menggedor hatiku yang paling dalam. Aku berdiri, mendekatkan diri ke cermin. Aku memang hampir tak kenal pada sosok di cermin itu.

                                                                        *******
Kedatangan mama sangat membantu kesibukanku sehari-hari. Paling tidak, ada orang yang membantuku mengasuh Dinda, anak semata wayangku. Aku dan mas Har bekerja, sehingga mengurus rumah tangga merupakan satu hal yang sangat merepotkan buat kami. Pagi hari kami harus mengantar Dinda dulu kesekolah, baru kemudian pergi ketempat kerja masing-masing.
Setelah obrolanku dengan mama sore itu, aku selalu cemburu jika melihat mas Har rapi dan wangi. Apalagi dia bekerja disebuah toko swalayan yang sebagain besar karyawannya adalah perempuan.
                                                                        ******
Pagi itu, baru saja aku sampai di kantor. Komputer baru saja aku nyalakan. Namun tiba-tiba saja tubuhku mengigil dan kepalaku pusing. Beberapa bulan ini, setiap akan datang bulan, gejala ini selalu kurasakan.
“kamu pulang saja Rin, wajah kamu pucat banget, sebaiknya kamu ke dokter”
“iyy ya pak, saya izin pulang saja”
Jam baru menunjukan jam 10 pagi ketika aku sampai dirumah. Kondisi rumah sepi, tapi sayup-sayup kudengar ada suara-suara aneh dari dalam kamarku. Kuurungkan untuk membuka kunci pintu depan.
 Aku memutar kesamping rumah. Aku mengendap-endap kesamping kamarku. Suara-suara desahan kudengar semakin keras dari dalam sana. Hatiku mendidih, dadaku bergemuruh,gigiku gemeretak menahan amarah. Kuintip dari balik tirai yang sedikit terbuka dari samping kamarku.
Kudekatkan wajahku pada kaca jendela.  Aku terbelalak tak percaya, disana kusaksikan mas Har sedang bercumbu dengan seorang wanita. Melihat potongan rambut dan bentuk tubuhnya, rasanya wanita itu tak asing buatku.
Lututku lemas Jantungku serasa berhenti ketika wanita itu, menyibakkan rambutnya dan  menengok kearahku……




Senin, 14 Januari 2013

Aku terbangun di subuh yang dingin menusuk tulang. Diatas sebuah ranjang bertabur bunga melati. Disampingku tertidur pulas seorang lelaki gendut bertelanjang dada.Tubuhnya Cuma ditutupi kain sarung sebatas lutut. Dengkurnya terdengar dalam irama yang teratur. Segurat senyum tampak diwajahnya yang bulat.
Aku menarik selimut menutupi tubuhku yang telanjang. Menatap langit-langit kamar yang masih berhiaskan aneka bunga dan pita. Disudut kamar tampak rangkaian bunga sedap malam dan aster menebarkan harum yang semerbak ke seluruh ruangan.,Dekorasi kamar yang sama, seperti yang kulihat dulu. Tak pernah terbayangkan jika pada akhirnya aku harus menikah dengan lelaki disampingku ini. Lelaki yang malam tadi mengkhatamkan hasratnya yang menggelora. Dalam Sebuah pertautan halal yang di telah disahkan oleh agama dan negara. Aku pasrah dalam rangkulnya, membiarkannya menelusuri setiap lekuk ditubuhku. Deru nafasnya terasa panas di wajahku, membisikan kata-kata bersalut madu. Akupun meluruh dalam pusaran nafsu hingga tak sadar ketika kancing-kancing bajuku sudah terlepas satu-satu, Sampai dia menuntaskan dahaganya, melenguh lalu tergolek lemas disampingku. Namun masih saja ada rongga kosong dalam hati ini. Benarkah keputusan yang kuambil ini. Lelaki itu baru bisa memiliki tubuhku saja tapi tidak jiwa ku. Aku terkapar dalam jiwa yang kering, terombang ambing dalam kebahagiaan semu. Itulah pertautan ku yang pertama sekaligus terakhir dengan lelaki itu. Hari selanjutnya kami hidup dalam satu atap namun tidak pernah lagi melakukannya. Aku selalu menolaknya dengan berbagai macam alasan. Malam pertama dengannya itu kuanggap hanya sebuah kekhilafan. Teringat pernikahan pertamaku beberapa tahun lalu. Kini bayang-bayang kegagalan itupun kembali menghantuiku. Dulu pernah kurajut kasih bertahun-tahun sampai berujung dipelaminan tapi sayang nya langsung berantakan dalam hitungan sebelah jari tangan. Apalagi kini denganlelaki yang kurasa asing bagi perasaanku.

                                                                              *************

“dulu kamu menikah dalam usia yang masih labil nduk, belum matang secara mental” ibu mengingatkanku pada suatu sore yang temaram diteras depan rumah. “Saat ini kamu sudah lebih dewasa, seharusnya kamu bisa lebih bijaksana dalam bertindak dan bersikap. Ada banyak hal kesalahan besar yang kamu lakukan pada suami mu dulu, jangan lagi kamu lakukan pada suamimu yang sekarang, sudah saatnya kamu berubah”. Aku tertunduk mencoba meresapi kata-kata ibu. Saat itu aku tak tahu harus berbuat apa, semua berjalan biasa saja sama seperti kami belum menikah. Tidak pernah sekalipun aku memasak. Lebih banyak suamiku yang pulang kerja membawa makanan dalam kantung-kantung kresek. Kami sama-sama sibuk bekerja sehingga hampir tak sadar akan status kami yang sudah menikah. Pada awalnya semua berjalan biasa saja, baru kemudian riak-riak itu muncul. Meletus emosi kami berdua sampai satu saat perpisahan adalah jalan terbaik yang harus kami tempuh. Ego dan emosipun akhirnya mengalahkan akal sehat dan cinta yang pernah kami bina bertahun-tahun. Ada sejumput penyesalan dalam relung hatiku yang paling dalam, kami berdua sama-sama terluka namun terlalu gengsi untuk sekedar menyatakan penyesalan dan sepatah kata maaf. Kini di pernikahan yang kedua, semua tak juga berubah. Apalagi pernikahan ini memang hanya untuk mencari status. Sebutan janda sangat tidak nyaman kurasakan, hingga suatu saat seorang perjaka tua melamarku. Tak ada rasa cinta dihati ini, hanya ada sejumput kekaguman akan kegigihannya mendekatiku. “ Maaf saja, aku tidak bersedia, Aku tidak mencintai mu mas”, jawabku ketika pertama kali dia melamarku. Dia hanya tersenyum, “ Aku akan menunggu sampai kamu mencintaiku”, jawabnya tegas. Tahun berjalan, aku jatuh bangun membina hubungan dalam lingkaran setan pacaran yang tak berujung. Sementara usiaku semakin bertambah, belum ada seorang pun yang tampaknya serius melanjutkan ke jenjang pernikahan. Sementara disana ada seorang lelaki yang begitu setia menungguku. Hingga akhirnya di usahanya yang kesekian kali, aku meluruh, “baiklah aku bersedia, tapi dengan syarat, mas tidak boleh banyak menuntut. Aku tidak mau banyak diatur, bagaimana? “Baik, terserah kamu, yang penting kamu mau menikah denganku. Aku sangat mencintaimu Arini”. Biarkanlah bibit cinta ini mencari jalannya, aku akan menyiraminya agar suatu saat bermekaran dalam hati mu”. Jauh di dalam hatiku aku tersentuh oleh semua kata-kata dan sikapnya.

                                                                                  *********  

Mas Bram sudah berangkat kerja dari subuh tadi. Ketika merapikan tempat tidur, kudapati sebuah kotak kado kecil dan selembar surat di bawah bantal. Dear Arini, Terima kasih atas segala pengorbanan mu selama ini. Aku tahu sulit memang hidup bersama orang yang tidak kamu cintai. Namun aku masih berharap cinta akan tumbuh dihati kamu seberapa besarnyapun itu. Aku akan terus menunggu dan memupuk rasa itu agar semakin bertambah. Berharap dan selalu berdoa semoga suatu hari nanti kamu akan mencintaiku sebesar aku mencintaimu. Oh ya ada satu hadiah kecil buat kamu, semoga kamu suka. Happy Anniversary Honey. Aku terhenyak sejenak, mataku terasa panas, setitik butiran bening jatuh dari mataku tanpa sanggup aku cegah. Entah mengapa tiba-tiba saja perasaan bersalah membuncah dalam dadaku. Nafasku terasa sesak, betapa kejam nya aku ini. Satu tahun sudah aku menyianyiakan orang yang sangat mencintaiku. Aku segera beranjak bangun dari tempat tidur. Aku bertekad akan mencintai suamiku dengan segenap jiwa ragaku. Sudah cukup rasanya benteng yang kubangun selama satu tahun ini. Sebaris pesan kukirimkan via BBM, “mas pulang sore ya, aku ingin merayakan hari jadi kita, Love You “ Inilah pertama kalinya aku menuliskan kata love you pada pesan yang kukirim. Hatiku serasa berbunga-bunga. Tiba-tiba saja rasa kangen muncul dalam hatiku, menyingkirkan semua keegoanku selama ini.

                                                                                       ******  

Seharusnya sore ini menjadi hari yang indah buat hubunganku dengan mas Bram, tapi takdir ternyata berkata lain. Sebuah truk tronton, menyerempet motor nya hingga terpelanting. Aku menjerit sejadi-jadinya melihat jasad nya terbujur kaku di depanku. Setangkai mawar merah dibalik jaketnya membuat hatiku semakin teriris. Aku bersimpuh merapalkan selaksa kata maaf dan berjuta penyesalan. Seulas senyum bahagia tampak di wajahnya yang pucat. “Mengapa kamu harus pergi disaat cinta itu datang padaku mas? Seruku lirih.

Rabu, 25 Juli 2012

  
Pendahuluan
Anak usia dini berada dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan yang paling pesat, baik fisik maupun mental (Suyanto, 2005: 5). Maka tepatlah bila dikatakan bahwa usia dini adalah usia emas (golden age), di mana anak sangat berpotensi mempelajari banyak hal dengan cepat. Penyelenggaraan sekolah Taman Kanak – kanak (TK) atau Raudhatul Athfal (RA) menurut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Tahun 2004 berfokus pada peletakan dasar – dasar pengembangan sikap, pengetahuan, ketrampilan, dan daya cipta sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak (Megawangi, 2005 : 82). Maka sebaiknya pendidikan Taman Kanak – kanak (TK) janganlah dianggap sebagai pelengkap saja, karena kedudukannya sama penting dengan pendidikan yang diberikan jauh di atasnya.
Pentingnya mengenyam pendidikan TK juga ditunjukkan melalui hasil penelitian terhadap anak – anak dari golongan ekonomi lemah yang diketahui kurang memperoleh rangsangan mental selama masa prasekolah, ternyata pendidikan selama 10 tahun berikutnya tidak memberi hasil yang memuaskan (Adiningsih, 2001 : 28).
Beberapa tahun belakangan ini pun, banyak sekolah dasar, terutama sekolah dasar favorit yang memberikan beberapa persyaratan masuk pada calon siswanya. Sekolah ini mengadakan tes psikologi dan mensyaratkan anak sudah harus bisa membaca (Andriani, 2005 : 1). Dampaknya, orangtua pun meyakini bahwa sebelum masuk sekolah dasar, putra – putrinya harus menguasai ketrampilan tertentu. Akhirnya mereka merasa pendidikan TK merupakan suatu prasyarat masuk sekolah dasar.
Di satu sisi, membaca bukanlah tujuan yang sebenarnya dari penyelenggaraan pendidikan TK, namun di sisi lain hal ini justru menambah daftar alasan mengapa belajar membaca sejak TK itu penting. Corak pendidikan yang diberikan di TK menekankan pada esensi bermain bagi anak – anak, dengan memberikan metode yang sebagian besar menggunakan sistem bermain sambil belajar. Membaca merupakan sarana yang tepat untuk mempromosikan suatu pembelajaran sepanjang hayat (life long learning). Mengajarkan membaca pada anak berarti memberi anak tersebut sebuah masa depan, yaitu memberi teknik bagaimana cara mengekplorasi “dunia” mana pun yang dia pilih dan memberikan kesempatan untuk mendapatkan tujuan hidupnya (Bowman, 1991: 265). Penelitian di Negara maju pun menunjukkan sebaliknya, bahwa lebih dari 10% murid sekolah mengalami kesulitan membaca, yang kemudian menjadi penyebab utama kegagalan di sekolah (Yusuf, 2003 : 69).
Melihat dampak yang akan dihasilkan dari kegagalan pengajaran membaca, dirasakan bahwa kemampuan membaca perlu dirangsang sejak dini. Namun, membaca bukanlah suatu kegiatan pembelajaran yang mudah. Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan anak dalam membaca. Secara umum, faktor – faktor tersebut datang dari guru, anak, kondisi lingkungan, materi pelajaran, serta metode pelajaran (Sugiarto, 2002). Faktor – faktor tersebut terkait dengan jalannya proses belajar membaca, dan jika kurang diperhatikan hal tersebut dapat mempengaruhi keberhasilan membaca pada anak.
Definisi Membaca
Membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekadar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif Sebagai proses visual membaca merupakan .proses menerjeniahkart simbol tulis (hurut) ke dalam kata-kata lisan. Sebagai suatu proses berpikir, membaca mencakup aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, membaca kritis, dan pemahaman kreatif Pengenalan kata bisa berupa aktivitas membaca kata-kata dengan menggunakan kamus (Crawley dan Mountain, 1995).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999: 623), “kemampuan”berarti kesanggupan atau kecakapan. “Membaca” berarti melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis, atau mengeja dan melafalkan apa yang tertulis (KBBI, 1999,: 72). Petty dan Jensen (Ampuni, 1998: 16) menyebutkan bahwa definisi membaca memliki beberapa prinsip, di antaranya membaca merupakan interpretasi simbol – simbol yang berupa tulisan, dan bahwa membaca adalah mentransfer ide yang disampaikan oleh penulis bacaan. Maka dengan kata lain membaca merupakan aktivitas sejumlah kerja kognitif termasuk persepsi dan rekognisi. Terdapat beberapa tahap dalam proses belajar membaca. Initial reading (membaca permulaan) merupakan tahap kedua dalam membaca menurut Mercer (Abdurrahman, 2002: 201).
Tahap ini ditandai dengan penguasaan kode alfabetik, di mana anak hanya sebatas membaca huruf per huruf atau membaca secara teknis (Chall dalam Ayriza, 1995: 20). Membaca secara teknis juga mengandung makna bahwa dalam tahap ini anak belajar mengenal fonem dan menggabungkan (blending) fonem menjadi suku kata atau kata (Mar’at, 2005: 80). Kemampuan membaca ini berbeda dengan kemampuan membaca secara formal (membaca pemahaman), di mana seseorang telah memahami makna suatu bacaan. Tidak ada rentang usia yang mendasari pembagian tahapan dalam proses membaca, karena hal ini tergantung pada tugas – tugas yang harus dikuasai pembaca pada tahapan tertentu. Menurut Depdikbud tahun 1986 (dalam Ayriza, 2005 : 85), Chaer (2003: 204), serta Purwanto dan Alim (1997 : 35), huruf konsonan yang harus dapat dilafalkan dengan benar untuk membaca permulaan adalah b, d, k, l, m, p, s, dan t. Huruf – huruf ini, ditambah dengan huruf – huruf vokal akan digunakan sebagai indikator kemampuan membaca permulaan, sehingga menjadi a, b, d, e, i, k, l, m, o, p, s, t, dan u. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian kemampuan membaca permulaan mengacu pada kecakapan (ability) yang harus dikuasai pembaca yang berada dalam tahap membaca permulaan. Kecakapan yang dimaksud adalah penguasan kode alfabetik, di mana pembaca hanya sebatas membaca huruf per huruf, mengenal fonem, dan menggabungkan fonem menjadi suku kata atau kata.
Pembaca yang efektif rnenggunakan berbagai strategi membaca yang sesuai dengan teks dan konteks dalam rangka mengonstruk makna ketika membaca. Strategi ini bervariasi sesuai dengan jenis teks dan tujuan membaca. Membaca adalah interaktif. Keterlibatan pembaca dengan teks tergantung pada konteks. Orang yang senang membaca suatu teks yang bennanfaat, akan menemui beberapa tujuan yang ingin dicapainya, teks yang dibaca seseorang harus mudah dipahami (readable) sehingga terjadi interaksi antara pembaca dan teks (Rahim,2011:3)
Tujuan umum pengajaran membaca permulaan
Pengajaran membaca permulaan, menurut Soejono (Lestary, 2004: 12) memiliki tujuan yang memuat hal – hal yang harus dikuasai siswa secara umum, yaitu: a. Mengenalkan siswa pada huruf – huruf dalam abjad sebagai tanda suaraatau tanda bunyi. b. Melatih ketrampilan siswa untuk mengubah huruf – huruf dalam katamenjadi suara. c. Pengetahuan huruf –huruf dalam abjad dan ketrampilan menyuarakanwajib untuk dapat dipraktikkan dalam waktu singkat ketika siswa belajar membaca lanjut.

Tahapan proses belajar membaca
Grainger (2003:185) menyebutkan adanya tiga tahapan dalam proses membaca. Tahap prabaca dapat dilihat dari kesiapan anak untuk memulai pengajaran formal dan tergantung pada kesadaran fonemis anak. Anak yang dinyatakan siap (biasanya pada anak – anak yang baru memasuki usia prasekolah) kemudian akan melalui tahap pertama dalam proses membaca. Tahap pertama adalah tahap logo grafis, anak – anak taman kanak – kanak atau awal kelas 1 menebak kata – kata berdasarkan satu atau sekelompok kecil huruf sehingga tingkat diskriminasi sangat buruk. Kemudian setelah mendapat pengajaran, diskriminasi menjadi lebih baik. Anak dapat membedakan kata yang sudah dan belum dikenal, namun mereka belum dapat membaca kata – kata yang belum dikenal. Tahap kedua adalah tahap alfabetis, pada tahap ini pembaca awal memperoleh lebih banyak pengetahuan tentang bagaimana membagi kata-kata ke dalam fonem-fonem dan bagaimana merepresentasikan bunyi-bunyi yang mereka baca dan eja dengan ortografi alfabet. Tahap ketiga dilalui ketika anak sudah lancar dalam proses dekoding. Anak pada tahap ini mampu memecahkan kata – kata yang beraturan dan tak beraturan dengan menggunakan konteks. Biasanya tahap ini berlangsung ketika anak berada pada pertengahan sampai akhir kelas 3 dan kelas 4 sekolah dasar. Mercer (Abdurrahman, 2002:201) membagi tahapan membaca menjadi lima, yaitu: a. Kesiapan membaca. b. Membaca permulaan. c. Ketrampilan membaca cepat. d. Membaca luas. e. Membaca yang sesungguhnya.
Chall (Ayriza, 1995: 20) menyatakan bahwa tahap pertama membaca adalah tahap membaca permulaan yang ditandai dengan penguasaan kode alfabetik. Tahap kedua adalah tahap membaca lanjut di mana pembaca mengerti arti bacaan.

Metode pengajaran membaca

Abdurrahman (2002 : 214) mengemukakan metode pengajaran membaca, bagi anak pada umumnya, antara lain: 1) Metode membaca dasar. Metode membaca dasar pada umumnya menggunakan pendekatan eklektik yang menggabungkan berbagai prosedur untuk mengajarkan kesiapan, perbendaharaan kata, mengenal kata, pemahaman, dan kesenangan membaca. Metode ini umumnya dilengkapi rangkaian buku yang disusun dari taraf sederhana hingga taraf yang lebih sukar, sesuai dengan kemampuan atau tingkat kelas anak – anak. 2) Metode fonik. Metode fonik menekankan pada pengenalan kata melalui proses mendengarkan bunyi huruf. Pada mulanya anak diajak mengenal bunyi – bunyi huruf, kemudian mensintesiskannya menjadi suku kata dan kata. Bunyi huruf dikenalkan dengan mengaitkannya dengan kata benda, misanya huruf “a” dengan gambar “ayam”. Dengan demikian, metode ini lebih bersifat sintesis daripada analitis. 3) Metode linguistik. Metode linguistik didasarkan atas pandangan bahwa membaca adalah proses memecahkan kode atau sandi yang berbentuk tulisan menjadi bunyi yang sesuai dengan percakapan. Anak diberikan suatu bentuk kata yang terdiri dari konsonan – vokal atau konsonan – vokal – konsonan, seperti “bapak” atau “lampu”. Kemudian anak diajak memecahkan kode tulisan itu menjadi bunyi percakapan. Dengan demikian, metode ini lebih bersifat analitik daripada sintetik. 4) Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik). Metode ini pada dasarnya merupakan perpaduan antara metode fonik dan linguistik. Perbedaannya adalah jika di dalam metode linguistik kode tulisan yang dipecahkan berupa kata, di dalam SAS berupa kalimat pendek yang utuh. Metode ini berdasarkan asumsi bahwa pengamatan anak mulai dari keseluruhan (gestalt) dan kemudian ke bagian – bagian. 5) Metode alfabetik. Metode ini menggunakan dua langkah, yaitu memperkenalkan kepada anak berbagai huruf alfabetik dan kemudian merangkaikan huruf – huruf tersebut menjadi suku kata, kata, dan kalimat. 6) Metode pengalaman bahasa. Metode ini terintegrasi pada perkembangan anak dalam ketrampilan mendengarkan, bercakap – cakap, dan menulis. Bahan bacaan yang digunakan didasarkan atas pengalaman anak. Metode Peneltian Untuk mengetahui sejauh mana proses membaca permulaan ini sudah sesuai atau belum dengan teoari-teoari yang telah dikembangkan oleh para ahli. Penulis melakukan suatu penelitian dengan menggunakan metode survey. Suyvey dilakukan dengan cara penggunaan angket atau kuesioner. dengan metode penunjang antara lain: observasi, wawancara, dan pengukuran langsung. Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengadakan komunikasi secara tertulis dengan sumber data. Data yang ingin dikumpulkan dijabarkan dalam bentuk pertanyaan tertulis dan responden memberi jawaban secara tertulis pula  

Penutup
Masa anak – anak adalah masa bermain. Karenanya Pendidikan Anak Usia Dini dirancang untuk mengembangkan sistem belajar sambil bermain. Maka sebaiknya orangtua tidak terlalu memaksakan suatu metode belajar kepada anak sebagai alat untuk mencapai harapan pribadi. Suatu paksaan terhadap anak akan berdampak buruk, dan anak tentunya akan lebih menikmati apapun materi yang diajarkan jika diberikan secara menyenangkan dan dalam suasana yang akrab. Perancangan suatu metode membaca yang lebih memperhatikan kebutuhan dan faktor perkembangan anak dapat menjadi masukan bagi praktisi pendidikan anak usia dini. Mengingat tuntutan pendidikan dasar yang mewajibkan anak mampu membaca dan menulis saat masuk Sekolah Dasar seringkali membuat orangtua memandang rendah peranan pendidikan usia dini. Walaupun sebenarnya membaca dan menulis di usia dini sama sekali bukanlah sebuah tuntutan. Pandangan yang salah kaprah semacam ini dapat diatasi dengan mengambil jalan tengah, mengajarkan membaca dengan metode yang sesuai prinsip PAUD, memberikan stimulasi membaca yang sangat memperhatikan faktor – faktor perkembangan anak dan dikemas secara menyenangkan.

Daftar Pustaka
Abdurrahman, M. 1999. Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Adiningsih, N. U. 2001. Pendidikan Anak Dini Usia. Jakarta: Rineka Cipta. Ampuni, S. 2004. Proses Kognitif dalam Pemahaman Bacaan. Buletin Psikologi,VI, Vol 2. Andriani, S. 2005. Perbedaan Efektivitas Metode Lembaga Kata serta Metode Struktural Analisis dan Sintesis (SAS) dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan. Ringkasan Skripsi. Semarang: Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Ayriza, Y. 1995. Perbandingan Efektivitas Tiga Metode Membaca Permulaan dalam Meningkatkan Kesadaran Fonologis Anak Prasekolah. Tesis. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Bowman, J. D. dan Bowman, S. R. 1991. Dalam Abdurrahman, M. 1999. Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Chaer, A. 2003. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta. Grainger, J. 2003. Problem Perilaku, Perhatian, dan Membaca pada Anak: Strategi Intervensi Berbasis Sekolah (Alih Bahasa: Enny Irawati). Jakarta: Grasindo Lestary, A. 2004. Perbedaan Efektivitas Metode Lembaga Kata dengan Alat Bantu Gambar dan Tanpa Gambar dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Anak Taman Kanak – kanak. Skripsi. Semarang: Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Megawangi, R., Dona, R., dkk. 2005. Pendidikan yang Patut dan Menyenangkan: Penerapan Teori Developmentally Appropriate Practices (DAP). Jakarta: Indonesia Heritage Foundation. Purwanto, N., dan Alim, D. 1997. Metodologi Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Jakarta: Rosda Jayaputra. Rahim, Farida, Pengajaran Membaca Di sekolah Dasar, Bumi Aksara, Jakarta. Sugiarto. 2002. Perbedaan Hasil Belajar Membaca Antara Siswa Laki - laki dan Perempuan yang Diajar Membaca dengan Teknik Skimming (12 halaman).http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/37/perbedaan_hasil_belajar_membaca.Htm diunduh tanggal 12 April 2012 Suyanto, S. 2005. Dasar – dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Hikayat. Yusuf, M. 2003. Pendidikan bagi Anak dengan Problema Belajar. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Minggu, 15 Januari 2012