Rabu, 28 Agustus 2013




Adzan magrib baru saja usai dikumandangkan. Tanah masih becek oleh air hujan, suara motor terdengar samar diluar rumah sederhana itu. Sore seperti ini memang masih banyak ojek yang mengais rezeki.

“Tok tok tok, Assalamualaikum, Lastri…………..Lastri, buka pintu nya”, suara ketukan pintu mengagetkan Lastri yang baru saja usai menunaikan shalat maghrib. ‘wa alllakum salaam, bang Panjul ya, sebentar bang”, Lastri bergegas menuju pintu depan. Suara derit pintu segera terdengar, mengiringi suara parau bang panjul

“waduhh gawaat Las….gawat…..!

“Gawat kenapa bang, kenapa tangan abang luka-luka dan wajah abang juga lebam-lebam begitu?

“Anu Las anu…..aku, ehh bis ku kecelakaan!!

“Kecelakaan”? ya tapi syukurlah abang masih selamat kan?

“ yaa, tapi…. ,Panjul termenung beberapa saat, hatinya bimbang untuk menceritakan kejadian yang sesunguhnya.

“sudahlah abang mandi saja dulu, shalat dulu, biar nanti luka-lukanya Lastri obati”

                                                 **********


Hari mulai beranjak malam ketika suara ketukan keras di pintu kembali terdengar, Lastri bergegas turun dari tempat tidur. Ketika pintu dibuka tampak olehnya pak RT bersama empat orang berbadan tegap dengan rambut cepak, berjaket hitam.

“Selamat malam bu Lastri, bang Panjul ada?

Ada pak? aa …ada apa ya?

Belum selesai kekagetan Lastri, bang Panjul sudah keluar dari kamar.

Seorang petugas bergegas masuk, tiga lainnya waspada mengawasinya.

“ Anda yang benama Panjul?

“Ya pak!, Panjul menjawab sambil tertunduk lesu

Anda Supir Bis BAKTI KITA?

“ya, ya , pak!

“Mari ikut kami ke kantor Polisi, banyak hal yang harus anda pertanggungjawabkan”

Panjul hanya tertundul lesu ketika dua tangannya dikalungi borgol.

Loh kenapa suami saya ditangkap pak? salah suami saya apa pak? Lastri mulai panik. Pikiran polosnya masih tidak dapat mencerna kaitan antara kedatangan polisi dan kecelakaan yang dialami suaminya.

“Bis bang Panjul masuk jurang bu, banyak korban jiwa, jadi bang Panjul harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, kata pak RT berusaha menjelaskan.

Panjul digiring masuk kedalam mobil petugas. Wajahnya nelangsa, lesu sambil menatap isterinya. “Maafkan abang Las, rem bis abang rusak, abang ngak bisa kendaliin itu bis, akhirnya banyak korban, abang panik terus lari ke sini”, Panjul berkata lirih.

Pak.., bapak, .. bapak , bapak mau kemana? bapak mau kemana? Suara Anisa anak semata wayangnya membuat miris hati Panjul. “bapak pergi dulu nak, nanti bapak kembali lagi bawa oleh-oleh ya” ,setitik air mata tak dapat panjul tahan, jatuh dari ujung kelopak matanya. Terbayang hukuman yang akan diterimanya. Siapa yang akan membiayai kehidupan anak isterinya kelak.

Deru mobil petugas segera berlalu menyisakan Lastri dan Anisa putri kecilnya.

Mengapa bapak di tangkap polisi bu? bapak kan orang baik bu?

Sesaat Lastri tak mampu menjawab, hanya linangan air mata yang yang coba diusapnya. Anisa yang berumur 8 tahun sudah terlalu pintar untuk dibohongi.

“Bis yang bapak bawa, rem nya blong terus masuk jurang, banyak korban yang meninggal nak, bapak harus bertanggung jawab”, Lastri menjelaskan sambil menahan isak tangisnya.

“Loh, kenapa bapak yang harus bertanggung jawab bu? Bapak kan korban kecelakaan juga? terus bisnya kan bukan punya bapak, bapak kan cuma supir?

Lastri tak bisa menjawab, bergegas dia gendong Anisa, masuk kedalam rumah. “kita tidur saja ya nak, hari sudah malam, semoga besok bapak mu sudah boleh pulang”.

Malam mulai bergulir, pagi hampir menjelang namun tak sekejap pun Lastri tertidur. Pikirannya masih mencoba mencari jawaban atas nasib orang kecil seperti dirinya. “mengapa bang Panjul yang harus bertanggung jawab?. Di perusahaan itu tugas bang Panjul cuma supir yang bawa penumpang sampai ke tujuan.

Teringat obrolan beberapa hari lalu ketika bang Panjul mengeluhkan beberapa sparepart bis yang seharusnya sudah diganti tapi belum juga diganti. Bos beralasan suku cadang sekarang sedang naik tinggi, kalau masih bisa diakali pakai saja yang lama dulu. Kejadian seperti itu menurut cerita bang Panjul bukannya yang pertama kali. Seringkali mekanik yang bertugas mengurus mobil, harus mengakali sparepart yang sudah rusak supaya bisa dipakai lagi. “Seharusnya bos bang panjul dong yang disalahkan”? hati kecilnya berteriak.

Adzan subuh mulai bergema, Lastri bergegas menunaikan shalat. Dalam dinginnya pagi, Lastri mencoba menerima semua cobaan yang diberikan kepadanya. “Ya Allah jika memang ini adalah kehendakmu, berikanlah hamba dan bang Panjul ketabahan untuk menjalani semua cobaan ini”. Rintik hujan mulai turun disubuh yang hening ini, langit pun sepertinya menangis melihat nasib rakyat kecil seperti dirinya.


Perempuan kurus dan dekil itu menatap nanar ke arahku. Tatapannya kosong, sesekali mulutnya berguman tak jelas. Rambutnya riap-riapan tak karuan, bau pesing dan apek bercampur menjadi satu.Kakinya terikat kuat pada sebatang balok besar berkuran kurang lebih satu setengah meter. Membatasi geraknya sekaligus mengikat kehidupannya dalam ruangan sumpek ini. Kulitnya tampak kusam di tutupi daki. Pergelangan kakinya tampak kurus karena lama tidak digerakan. Lalat beterbangan disekitar tubuhnya yang berbau tak sedap.

“Surti, ini aku Sur…., Mas Narto, kamu masih ingat?

“hi hi hi hi hi, aku orang kaya, rumah ku besar, aku ngak mau pulang ….aku ngak mau pulang, mulutnya menyeringai, sesaat kemudian terdiam…….

Aku terdiam menatap wanita muda di hadapanku ini. Teringat betapa dulu aku penah sangat mendambakannya. Betapa tidak, enam tahun lalu, Surti adalah kembang desa di kampung kami. Wajahnya cantik, ramah dan selalu ceria. Kemiskinan yang membelenggu keluarga nya membuatnya nekat mengadu nasib menjadi TKW ke arab Saudi. Tahun ketiga setelah kepergiannya, Surti pulang. Seisi kampung menyambut nya dengan takjub. Surti pulang dengan penuh kemenanganan. Wajahnya sumringah, kecantikannya memancar seiring dengan dandanan nya yang semakin modis. Tak beda dengan dandanan orang-orang kota yang sering kami lihat di layar TV.



Sebentar saja, semua lelaki di kampungku membicarakannya. Tidak hanya yang muda, orang-orang tua pun dibuat belingsatan melihat kecantikannya. Namun itu hanya sebentar, karena kemudian terbertik kabar jika Surti akan segera menikah dengan pemuda pilihannya. Konon mereka bertemu ketika Surti masih berada di balai latihan TKW di Jakarta. Surti disunting oleh pemuda beruntung itu. Pesta besar pun kemudian dilaksanakan, di iringi sumpah serapah dalam hati seluruh pemuda kampung, termasuk juga diriku. Pupus sudah harapan cintaku di gondol orang.

Tiga tahun hidup berumah tangga, kehidupan ekonominya bukan bertambah baik. Partono suaminya adalah seorang pemalas. Kerjanya setiap hari hanya berjudi, dari mulai sabung ayam hingga judi togel. Ketika anak pertamanya lahir, kehidupan semakin sulit saja. Uang tabungan Surti dari bekerja di Arab Saudi mulai habis. Warung kecil yang dulu diharapkan bisa menjadi penopang kehidupannya ahirnya bangkrut.

“Surti, lebih baik kamu kerja lagi saja di Arab Saudi, biar Budi anak kita, aku yang merawatnya, toh dia juga sudah besar sekarang”, kata suaminya suatu sore.

“tapi akhir-akhir ini aku dengar di berita, disana makin tidak aman mas, banyak TKW yang disiksa, aku takut” sahut surti.

“dulu kan kamu pernah kerja disana, toh ngak apa-apa kan?

“Sudahlah mendingan kamu kerja lagi saja ke Luar negeri, besok aku urus semua dokumen nya”. Nada suara Partono meninggi.

Surti tertunduk, rasanya dia tidak bisa membantah suaminya. Ekonomi mereka memang sedang sulit. Satu-satunya jalan, dia memang harus kembali bekerja. Namun yang menjadi ganjalan nya adalah Budi. Anak semata wayangnya yang baru berusia dua setangah tahun. Rasanya berat sekali berpisah dengan anaknya ini.

Dengan sejuta keraguan dalam hati, Surti pun berangkat ke tanah harapan. Mimpi indah yang coba di raihnya kembali. Namun impian tinggalah impian karena yang didapat adalah sejuta siksaan. Belum genap dua tahun, diapun terpaksa dipulangkan. Petugas mendapatinya terlunta-lunta di jalanan setelah sekelompok orang tak dikenal memperkosanya.

Surti pulang dengan wajah tertunduk, malu, sedih dan putus asa bercampur aduk menjadi satu. Bersamanya beberapa orang juga terpaksa dipulangkan dengan berbagai macam sebab. Mereka adalah orang-orang kalah yang kembali ke kampung halaman dengan sejuta cibiran. Ada saja mulut-mulut usil yang bukannya bersimpati malah menyebarkan berita negative perihal kepulangan mereka.

Surti disambut oleh Budi serta kedua orang tuanya. Tak Nampak Partono suaminya diantara mereka.

“ Kemana mas Tono, bu?

“ehhh anu ehh lagi sibuk, jadi ngak sempet ikut”, bu Kusmi menjawab tergagap. Dia tak ingin membebani pikiran putrinya dengan berita yang sedang heboh dikampung.

“kamu sudah besar ya bud, sudah tinggi sekarang”

“mana oleh-olehnya bu? Aku mau robot-robotan bu? “ Budi menarik-narik tangan ibunya

“ya, nanti kita beli ya nak”, Jawabnya dengan bergetar, Mata Surti berkaca-kaca. Jangankan untuk membelikan oleh-oleh, untuk beli makan saja saat ini dia tidak punya uang sama sekali. Pakaian yang dipakaipun hasil pemberian dari orang di KBRI. Biaya untuk pulang sampai ke desa, semua ditanggung oleh pemerintah.

Dia termangu-mangu dalam perjalanan pulang, “Semoga saja Mas Partono bisa mengerti keadaanku”. Komunikasi terakhirku dengan Mas Partono membuatku sedikir optimis, bahwa semua akan baik-baik saja.

“maafkan aku ya Sur, aku jadi buat kamu menderita seperti ini, nanti setelah kamu pulang kita mulai lagi menata kehidupan kita”, suaranya meyakinkanku.

“uang yang kamu kirimkan selama satu tahun kemarin, aku pakai untuk beli motor. Aku pakai ngojek, buat menafkahi anak kita. Sisanya aku tambhakan untuk modal bikin warung lagi didepan rumah bapak.”

“Kamu tak perlu lagi bekerja keras, biarkan aku saja yang mencari nafkah”

“oh terima kasih mas, jika uang yang aku kirimkan bisa kau gunakan dengan sebaik-baiknya. Aku benar-benar rindu kepada keluarga kita mas.

                                                                              ******

Jalan aspal yang mulus mulai terasa bergelombang dan tak lama kemudian berbatu-batu. Surti tersentak dari lamunannya. Desa yang asri dengan deretan sawah dan pohon-pohon buah-buahan menyambutnya. Jalan yang berbatu membuat mobil yang membawanya berjalan perlahan. Matanya bertumbuk pada dua orang yang sedang berboncengan motor di depan nya. Seorang wanita bertubuh seksi tampak dengan mesra memeluk si pengendara motor. Entah apa yang mereka bicarakan, terlihat mereka tertawa-tawa. Gaya centil siwanita membuatnya risih. Surti memalingkan mukanya dari pemandangan di depannya.

Tiba-tiba, budi berteriak,

Itu bapak, bu…….bu itu bapak”, serunya. Surti terkesiap, “ mana, Bud?

“Itu yang lagi boncengan motor”

Hatinya mendidih, itu memang benar suaminya…… “mas, berhenti kamu!! Teriaknya dari dalam mobil. Partono menengok, tampak kaget dan kemudian malah tancap gas, dan segera menghilang di ujung jalan sana. Cerita-cerita yang didengar berikutnya seperti godam besar yang di pukulkan ke kepalanya.Surti benar-benar terguncang mendengar hal yang sedang terjadi. Uang yang di kirimkannya ternyata digunakan oleh suaminya untuk menikah lagi.

                                                                           *********

Rambutnya yang dulu hitam mengkilat kini tampak kusam. Kulitnya yang kuning langsat sekarang di penuhi koreng dan bintik-bintik merah bekas gigitan nyamuk. Layu sudah bunga yang dulu dikelilingi kumbang. Orang tua Surti sudah tidak mampu lagi membiayai pengobatannya.

Wajahnya menyeringai menampakan gigi nya yang kuning. Hi hi hi…..

“Aku cantik dan kaya raya, uangku banyak….uangku banyak……..

Aku beranjak meninggalkannya. Jika saja negeri kaya sumber daya alam ini dikelola dengan penuh dedikasi dan kejujuran. Rasanya tak perlu lagi rakyat kecil mempertaruhkan nyawa mencari pekerjaan dinegeri orang.


Cerita terinspirasi dari berita di viva news.com tanggal 17 februari 2012, berjudul “Derita TKI yang dipasung”





Partini terkulai lemah di atas lantai kamar yang beralas kasur tipis. Disampingnya dua anak kembar yang baru saja dilahirkan tertidur pulas. Matanya menerawang kelangit-langit rumahnya, hatinya sedang gundah. Dia tinggal di sebuah bangunan sederhana yang lebih cocok di sebut gubuk. Dinding gedek tampak sudah bolong disana-sini., sementara sarang laba-laba tampak memenuhi langit-langit rumahnya yang tak berplafon.

Hadirnya buah hati merupakan suatu kebahagiaan yang tak terkira buat banyak orang. Namun untuk dirinya, kehadiran mereka benar-benar membuat hatinya diliputi sejuta kebimbangan. Bagaimana dia bisa merawat mereka. Sementara dua anak yang lainnya saja tidak dapat dia penuhi kebutuhan sehari-harinya.

Beban ekonomi yang dirasakannya bertambah berat terutama semenjak Mas Paijo pergi meninggalkannya tiga bulan yang lalu. Lelaki pemabuk itu meninggalkan dia dan anak-anak mereka tanpa pesan apa-apa. Gajinya sebagai pembantu rumah tangga, tentu saja tidak cukup untuk menutup semua kebutuhan sehari-hari.

Teringat percakapannya dengan seorang ibu paruh baya yang kemarin datang ke rumahnya.

“Bu Partini, lucu sekali bayi nya. Ini ada sedikit oleh-oleh buat merayakan kehadiran bayi-bayi lucu ini”.

“terima kasih ya bu, tapi maaf Ibu ini siapa ya?

“oh ya, saya bu Tuti, temannya bu Siti majikan ibu.

“Saya tau dari Bu Siti, katanya pembantunya yang bernama Partini baru saja melahirkan bayi kembar yang lucu”

“oh, terima kasih ya bu….

“merawat bayi kembar seperti ini pasti butuh biaya yang besar ya bu? Tanya bu Tuti dengan mimik penuh perhatian.

“ya begitulah bu, untuk biaya persalinan saja saya masih berhutang ke Paraji yang di ujung gang sana”

“untuk biaya sehari-hari darimana?

“ngak tau bu, saya juga bingung, suami saya juga pergi entah kemana, sementara ini masih ada sisa sedikit uang dari Bu Siti”.

“ehmm kasihan sekali ya”

“Begini bu, keponakan saya sudah menikah 3 tahun tapi belum juga dikarunia anak. Dia sangat mendambakan punya momongan.” Maaf ya bu, kalau ibu mau, bagaimana kalau anak ibu yang satu, atau dua-duanya, ibu berikan saja kepada keponakan saya. Bukannya menghina, tapi apakah ibu sanggup merawat dua bayi sekaligus? Biayanya pasti sangat banyak. Nanti, ya adalalah uang penggantiannya. Biaya Paraji biar saya yang bayar, gimana bu?

Partini termenung sejenak, hatinya bimbang. Hati kecilnya rasanya tidak tega jika harus berpisah dengan putri kecilnya.

“ehh gimana ya bu? Saya bingung, nanti saya pikir-pikir dulu ya bu….”

“Ibu pikirkan saja dulu, tapi apa ibu tega, mereka hidup tapi terlantar? Bocah bayi seperti mereka harusnya terpenuhi semua kecukupan gizinya bu. kasihan kalau bocah sekecil ini sampai harus kekurangan gizi”.

“Baiklah, nanti dua hari lagi saya kembali lagi ya”…..

                                                                              *********

Partini bersandar pada bale-bale di depan rumahnya, di dada kiri, bayi mungilnya sedang menyusu. Pagi mulai menggeliat, ufuk timur sudah mulai benderang. Aroma humus dan ilalang mengepung dari halaman rumahnya. Aroma yang selalu memberinya ketenangan ditengah hiruk pikuk kota.

Dua anak lainnya sedang bersiap berangkat ke sekolah.

“bu, uang jajan nya mana? Dua jagoan ciliknya tiba-tiba muncul dari dalam rumah.

“ibu ngak ada uang nak, maaf ya? Rasanya Partini ingin menangis, dadanya terasa sesak.

“ini si mbah ada uang dua ribu nih! Suara si mbah dari dalam rumah.

Dua bocah itu berlari kedalam rumah. Neneknya memberi mereka masing-masing seribu rupiah. Wajah riang segera terpancar dari keduanya. Untunglah jarak rumah kesekolah tidak terlalu jauh. Mereka berangkat sekolah cukup jalan kaki saja.

“hati-hati dijalan ya nak”…….

“ya bu, assalammualaikum………..

“wa aalaikum saaalam, seru Partini dengan pandangan mata haru.

Partini baru saja akan masuk kedalam rumah ketika dilihatnya Ibu Tuti datang bersama seorang temannya. Sebuah mobil tampak menunggu di ujung jalan sana. Setelah mempersilahkan tamunya duduk, Partini bergegas kedalam kamar. Masih saja hatinya bimbang.

“ada apa toh nduk? Suara ibunya bertanya dengan suara pelan

“kalau kamu ragu-ragu, sebaiknya tidak usah kamu berikan”

“ndak bu, aku memang harus memilih. Ini demi masa depan sikembar, juga masa depan Fauzan dan Fery. Jika aku berikan dua anak ini, paling tidak mereka akan punya masa depan yang lebih baik. Aku bisa kembali bekerja. Fauzan dan Feri tak perlu kekurangan uang jajan.



                                                                              ******

Mobil itu segera berlalu, mata Partini tak juga beranjak dari mobil yang mulai menjauh dari pandangannya. Hatinya serasa di iris-iris, dua butir air mata jatuh dari kedua pelupuk matanya. Tangannya masih menggenggam amplop coklat yang tadi diberikan ibu Tuti.

“kamu harus punya kehidupan yang lebih baik nak, ini pilihan yang ibu rasa paling baik, maafkan ibu nak”, serunya dalam hati.

Tangan renta Ibu memeluknya, “ sudahlah nduk, jika Allah mengijinkan, suatu saat pasti kamu akan bertemu lagi dengan mereka.

                                                                            ********

Hari berganti, partini sudah mulai bekerja lagi. Pikirannya mulai agak tenang meskipun masih sering teringat kepada dua putri kembarnya. Kehidupannya sudah mulai bisa kembali normal. Uang yang diberikan oleh bu Tuti, sebagian digunakan untuk melunasi hutang-hutangnya. Sebagian lagi dibelikan beras dan kebutuhan sehari-hari.

Partini baru saja selesai menunaikan shalat Maghrib bersama dua orang anaknya,ketika tiba-tiba pintu depan diketuk orang.

“Assalamualaikum…….Bu partini, saya pak RT bu………! Suara orang diluar sana memanggil-manggil namanya.

“waaalikum salam, Partini bergegas membuka pintu depan. DI luar rumah tampak pak RT bersama tiga orang berbadan tegap. Disampingnya tampak Bu Tuti yang di apit erat dua orang wanita berambut pendek.

“Ibu yang bernama Partini?

“Ya, pak ada apa ya? tanya nya dengan wajah bingung

“Ibu harus ikut ke kantor polisi, karena ibu diduga terlibat dalam sindikat perdagangan bayi. Mari bu, ibu harus mempertanggungjawabkan perbuatan ibu. Menjual dan memperdagangkan bayi adalah perbuatan melawan hukum” suara polisi tadi bagaikan godam besar yang dihantamkan ke kepalanya. Pikirannya melayang-layang, menyeruak kedalam relung-relung hatinya yang paling dalam. Mengapa hidup ini demikian kejamnya, ini sungguh tak adil, teriaknya dalam hati……

Selasa, 27 Agustus 2013


By: Wisnu Mustafa & Yulia Rahmawati
No.103


Awan masih menggelayut, walau rintik hujan sudah pergi. Kabut itu perlahan-lahan berlalu, menampakkan rumput hijau dan pohon-pohon rindang dari balik jendela kamarku. “Aku pergi dulu ya Mas, kalau ada perlu apa-apa, di belakang ada mbok Minah,” teriak Pelangi, isteriku dari ambang pintu.
Belum sempat aku menjawab teriakannya, terdengar pintu depan tertutup. Tak  lama suara mobil mulai menderu menjauh dari halaman rumahku. Wangi parfumnya masih tertinggal diterpa angin. Hatiku bergetar, betapa aku sangat merindukan pelukan dan belaiannya.  Dua tahun sudah kulalui hari dalam kesunyian, kegelapan, dan kelumpuhan.
“Pelangi...” gumamku dalam rindu. Walau kita berada dalam satu atap, rinduku padamu terhalang raga yang tanpa daksa. Proses penyembuhanku ini benar-benar telah menyiksaku lahir dan batin.
Pelangi.... Terbayang dalam rindu ini padamu, ketika aku mulai merasakan sakit kepala yang berkepanjangan. Belum lagi penglihatan dan pendengaranku mulai memudar, kau setia mendampingiku.
Kau menyarankanku untuk periksa ke dokter, tapi aku mengabaikannya karena pekerjaan yang begitu menumpuk. Ya, saat itu, dua tahun lalu aku adalah the best marketer  di perusahaanku. Posisi itu kuraih selama tiga tahun berturut-turut. Tentunya, itu tidak lepas dari prestasi dan kegigihanku dalam bekerja. Posisi yang sangat aku banggakan. Betapa tidak,  uang yang melimpah, kedudukan dan fasiltas yang sangat mumpuni, seakan semua keberuntungan tercurahkan dari langit kepadaku. Semua begitu mudah kuraih. Karir yang cemerlang, kekayaan, isteri yang cantik dan seorang anak yang manis. Sempurna, semua itu dambaan hidup yang selalu dicari oleh kebanyakan orang.
Sampai suatu saat, kepalaku terasa sangat sakit, berdenyut-denyut. Awalnya aku mengabaikannya, cukup hanya dengan obat dari apotek saja. Namun, belakangan sakit kepala itu semakin sering terjadi. Sampai suat saat   vonis itu benar-benar meluluhlantakan semua semangat hidupku.
Kanker otak anda sudah dalam stadium lanjut pak, kerusakannya akan menyebabkan gangguan pada organ-organ lainnya,” suara dokter bagaikan godam besar yang dihantamkan ke kepalaku.
Hari-hari selanjutnya mulailah babak baru penderitaanku. Walau aku langsung ditangani dokter spesialis, sakit kepalaku masih sering terasa. Pandanganku  pun mulai tak jelas, sebelum akhirnya hanya berupa bayang-bayang seperti siluet. Kedua kakiku pun akhirnya tidak dapat menyangga tubuhku. Lemas seperti tak bertenaga.
Sebuah keadaan yang bagiku merupakan hal yang lebih buruk dari kematian itu sendiri. Pernah terpikir untuk bunuh diri, namun aku tidak berani. Dini, anakku yang baru berumur 5 tahun menyadarkanku, betapa ada tanggung jawab besar yang harus kupenuhi. Di usiaku yang belum genap 40 tahun, jiwaku sekarat dalam tubuh yang sebenarnya sudah kuaggap mati.
Atas rujukan dokter, aku pun dioperasi ke luar negeri. Uang yang berlimpah tiba-tiba terkuras oleh biaya pengobatan. Perusahaan pun akhirnya terpaksa memberhentikanku. Pensiun dini, sebuah istilah yang terdengar sangat menyakitkan.
Uang pesangon yang diberikan perusahaan memang cukup besar. Namun itu juga akhirnya habis untuk biaya pengobatanku.Hanya rumah ini yang tersisa dari harta kita, inilah salah satu hal yang sangat kusesalkan dalam hidup. Tak berdaya dan terpakksa aku mengizinkanmu bekerja untuk kebutuhan kita. Namun seiring dengan karirmu yang terus menanjak, kurasakan kau semakin berbeda. Sikapmu semakin dingin, kemesraanmu tidak kurasakan lagi.  “Aku rindu semua kasih mu Pelangi”……
 “Pelangi, rupamu semakin hari semakin indah tapi sayang kau tak dapat kuraih,” perlahan aku mengguman. Hanya sapaanmu yang masih terngiang di telingaku. Datar dan terkesan dipaksakan, tapi selalu aku kenang. Wajahmu menyeruak dalam bayangan mataku. Namun, aku harus membebaskanmu, aku dan anak kita dari semua ini.
Kini, aku sudah mulai bisa bergerak walau hanya dengan kursi roda. Tetapi dokter menyemangatiku bahwa aku pasti bisa berjalan seperti semula bila aku rajin terapi. Bila tidak sedang terapi, Dinilah yang menjadi temanku bermain dan bercengkrama sepulang dia sekolah.
                                                                 ***
Bentangan gunung salak tampak samar tertutup awan tebal. Sisa-sisa rintik hujan yang turun subuh tadi masih terasa. Mentari yang berusaha keras keluar dari jebakan awan bersinar dengan malu-malu menghangatkan pagi. Cahayanya dipantulkan sisa air di udara menampilkan pelangi yang sangat indah di angkasa.
Pagi ini aku menatap keindahan alam Gunung Salak di teras rumah. Menunggumu keluar, sebelum kau pergi meninggalkanku.
Suara ketukan sepatu high heels mulai terdengar, menyadarkanku akan kehadiranmu. “Mas, kok ada di luar? Dingin kan?” Sapa Pelangi.
“Iya, aku sengaja menunggumu,” jawabku tersenyum.
“Oh... ada apa Mas?” kata Pelangi sambi melirik jam tangan, “Pagi ini aku ada meeting, kalau ada yang mau diomongin...”
“Iya,” potongku cepat. “Aku... aku hanya ingin menyapamu, sudah lama kita tidak ngobrol,” kataku.
“Mas, ngobrolnya lain waktu aja gimana?” kata Pelangi.
“Pelangi...!” aku terdiam, tapi aku harus mengatakannya.
“Iya...” jawab Pelangi  dengan tak sabar.
“Bila kamu merasa terbebani sama sakitnya Mas, Mas akan membebaskanmu, Pelangi,”
“Maksud Mas?” Pelangi terduduk. Wajahnya tampak sangat terkejut.
“Ya, aku membebaskanmu untuk memilih bersamaku atau melanjutkan hidupmu sendiri. Aku tak tahan kau abaikan Pelangi. Aku mengerti bahwa kamu sangat sibuk, dan semua itu untuk biaya penyembuhanku dan memenuhi kebutuhan keluarga kita. Tapi, aku tak mau jadi bebanmu. Aku paham, bukan hanya kebutuhan lahir yang tidak bisa kupenuhi, tapi kebutuhan batin juga,” kataku pelan.
“Mas...”, mata Pelangi mulai berkaca-kaca
“Sebenarnya aku tak ingin melepaskanmu Pelangi. Kaulah pelangi hati dalam hidupku. Tapi, aku tak ingin membuatmu terkungkung dalam diriku yang tak berguna ini.”
“Tidak Mas...” Pelangi menatapku tak percaya. “Aku masih setia padamu. Dan aku tidak akan pergi darimu. Akad pernikahan kita adalah janji kita pada Tuhan. Aku tidak akan mengkhianatinya.”
“Tapi Pelangi...”
“Mas, aku minta maaf bila semenjak bekerja aku seperti mengabaikanmu,” Pelangi tertunduk. “Aku sadar dan malu bertemu Mas, karena aku mengabaikan dan tidak menjagamu. Tapi, aku juga harus bertemu banyak klien, yang kuanggap itu jalan rejeki kita.Akhirnya aku malah  mengabaikanmu dan Dini, lupa akan tujuan aku bekerja. Maafkan aku Mas...”, Pelangi sudah tidak dapat membendung linangan air mata yang membasahi pipinya.
“Aku sudah memaafkanmu Pelangi... hanya saja aku tak ingin membebanimu... Bila kau ingin pergi, pergilah. Asalkan kau bahagia, aku akan sangat bahagia.”
“Tidak. Aku tidak akan melepaskan mu, mas. Aku akan berusaha untuk seimbang antara pekerjaan dan menjaga mas serta Dini. Aku sudah bahagia berada di sisi mas dan Dini.”
“Kita akan selalu bersama, sampai maut memisahkan kita mas, itu janjiku”
“Oh Pelangi... alangkah bahagianya aku mempunyai istri sepertimu,” lirihku dalam genggaman tangan Pelangi.
“Mama... Papa... lihat ada pelangi...!” teriak Dini, putri kami,  sambil menunjuk ke arah pegunungan. “Indah ya...”

NB: Pernah Diposting di salah satu even menulis di kampung fiksi kompasiana 
   




Dua tahun lalu Parmin hanyalah seorang buruh. Pekerjaannya tak jelas,uang yang didapat pun tak pernah cukup untuk menghidupi dia dan keluarga. Ditengah himpitan ekonomi itu seorang teman menyarankannya untuk berkonsultasi dengan seorang dukun sakti di pinggir hutan larangan. Mbah Dirja, demikian orang kampung biasa menyebutnya. Seorang lelaki bertampang menyeramkan dengan mata yang sebelahnya buta.

“jadi maksud mu hendak mencari kekayaan dengan cara gaib? Kamu sudah tau resikonya? Suara parau mbah Dirja membuka percakapan nya pada malam itu.

Parmin tertegun sejenak, ….”ehm terus terang syarat dan resikonya saya belum tau mbah, apa saja syarat nya mbah”?

“syaratnya sangat berat anak muda! Seringai mbah Dirja seakan mengejek Parmin

“ kamu harus mengawini Siluman ular yang ada di dalam hutan larangan sana”

“Saya sanggup mbah”, sahut Parmin, dengan yakin

He he he kamu bersemangat sekali cah gemblung, resikonya nyawa kamu juga bisa melayang jika kamu membuatnya marah!!

“Saya sanggup mbah” , Parmin berkata dengan penuh kesungguhan

Baiklah anak muda jika kamu sudah punya kemantapan hati, kita akan mulai ritual kita Malam Jumat depan, tepat jam 12 malam. Syarat yang harus kamu penuhi adalah siapkan kemenyan, kembang tujuh rupa, burung gagak dan seorang bayi merah.

…” bayi merah? Maksudnya bayi manusia mbah? Tanya Parmin dengan polos

Ha ha h a ha kamu pikir apa anak muda? Bayi merah yang masih hidup atau sudah mati tidak apa-apa yang penting masih segar, Kalau kau tidak sanggup kau boleh batalkan sekarang.

“Burung gagak mudah dicari di pasar burung, lalu bagaimana dengan bayi merah itu” rungutnya dalam hati, Parmin berusaha mencari jalan untuk memenuhi syarat tersebut.

Setelah mencari-cari di berbagai rumah bersalin di kota dan dukun beranak, Parmin akhirnya dapat juga seorang bayi merah yang baru saja meninggal di sebuah rumah bersalin. Proses mendapatkannya juga bukan hal yang mudah, Parmin harus berpura-pura menjadi keluarga dari bayi tersebut dengan berbagai tipu daya.

Hari yang dinanti pun tiba, Malam Jumat Kliwon, tepat jam 12 malam. Mbah Dirja dan Parmin sudah berada di dalam hutan larangan. Asap mengepul dari dupa berisi kemenyan. Mbah Dirja tampak khusyuk merapal mantra-mantra memanggil sang dewi Ular. Diatas selembar daun pisang mayat bayi terbujur kaku. Mbah Dirja memotong burung gagak dan meneteskan darahnya diatas tubuh sang bayi. Tiba-tiba dari semak belukar di belakang mereka keluar seekor ular besar. Ular bermahkota itu berjalan dengan anggun, sesaat dia menengok kearah Parmin, matanya menatap tajam kemudian melengos malu-malu.

Parmin tersentak kaget melihat ular besar itu, wajahnya seketika pucat pasi. Sebenarnya dia sudah ingin membatalkan rencana ini namun bayang-bayang kemiskinan jauh lebih menakutkan baginya. Mbah Dirja tampak berkomunikasi dengan mahluk menyeramkan itu. Tak jelas apa yang dibicarakan antara mereka. Prrmin hanya mendengar suara mendesis-desis.

Tak lama ular itu menggigit mayat bayi diatas daun pisang itu kemudian pergi diiring wangi harum dari tubuhnya.

“anak muda, sang dewi sudah berkenan menerimamu sebagai suaminya, kau tunggulah disini, tugasku sudah selesai”. Mbah Dirja pun berjalan pergi keluar dari hutan.

“Tapi mbah, apa yang harus saya lakukan nanti kalau ular itu muncul lagi?

He he he kau tunggu saja anak muda, kau akan menjadi suaminya”, suara tawa mbah dirja dari kejauahan samar-samar masih bisa didengar oleh parmin.
                                                            *********
Disebuah kota kecil 150 km jauhnya dari hutan larangan, seorang wanita hamil sedang sekarat di sebuah klinik bersalin. Sunarti isteri Parmin yang sedang hamil tua, sedang dalam penanganan dokter. Tindakan operasi segera dilakukan oleh dokter kandungan. Wajah sang dokter bergidik ngeri melihat kondisi bayi dalam kandungan Sunarti. Tubuh bayi itu tampak hancur tak beraturan.Semua tulang belulangnya patah.. Kondisi Sunarti sendiri tak kalah mengenaskannya. Banyak kehilangan darah membuat tubuhnya kian melemah. Ibu dan anak ini akhirnya tewas dengan cara mengenaskan.

********

Malam semakin mencekam, dingin serasa menusuk-nusuk tulang. Parmin sudah mulai mengantuk, ketika tiba-tiba hidungnya mencium semerbak wangi melati yang menusuk hidung. Sontak dia mencari asal wewangian tersebut. Di ujung sana tampak olehnya sesosok wanita cantik jelita berbusana seksi melambaikan tangannya. Seperti terhipnotis, Parmin pun mendekat kearah wanita tersebut. Nafsu kelelakiannyaun seketika bangkit. Akal sehatnya hilang, tak ada lagi rasa takut dihatinya. Wanita itu mencumbunya dengan dasyat. Parmin seketika kehilangan kendali, tubuhnya serasa di awang-awang. Entah kekuatan dari mana yang membuatnya merasa tidak pernah puas meski berkali-kali mengalami orgasme. Mereka bercinta hingga pagi menjelang.

Dingin pagi yang menusuk tulang membangunkannya dari tidur lelap. Kelelahan yang teramat sangat menderanya. Tulang nya serasa dilolosi satu persatu. Embun pagi bercampur dengan sisa-sisa keringat terasa lengket di tubuhnya. Tersentak Parmin segera meraba-raba sesuatu,dibawah tubuh telanjangnya. Lembaran-lembaran uang berserakan diatas daun pisang yang dia jadikan alas tidurnya. Parmin tersenyum lebar,tumpukan uang kini ada dalam genggaman tangannya. Bergegas dia membungkusnya dengan kain sarung.

‘Ha ha ha, selamat tinggal kemiskinan”, wajahnya sumringah. Hilang sudah lelah dan kantuk yang menderanya. Keluar dari hutan angker itu matahari mulai bersinar. Bibirnya tak henti bersiul dalam perjalanan yang dirasakan penuh kemenangan ini.

Teringat permainan cintanya dengan Nyi Dewi Kencana, siluman ular penunggu hutan larangan.. Wanita cantik itu benar-benar menepati janjinya. Memberikan kekayaan yang berlimpah dengan syarat Parmin mau menjadi suaminya. Setiap malam jumat, ketika bulan sedang purnama dia akan datang untuk mengajaknya bercinta.

*************

Tahun pun berganti, Kehidupan Parmin seketika berubah drastis. Dari buruh kasar yang penghasilannya tak menentu, gubuk reot dan kumuh sudah ditinggalkannya. Rumah mewah dengan deretan kendaraan Angkot berjejer di halaman rumah nya. Parmin sekarang adalah pengusaha sukses di bidang angkutan darat.

Di rumah besar itu ada sebuah kamar mewah yang khusus digunakan oleh Parmin untuk berrcinta dengan Nyi Dewi Kencana, isteri gaibnya. Dia akan datang satu bulan sekali tepat ketika purnama sedang bersinar terang. Tiga tahun sudah berlalu, Parmin sudah sangat kaya sekarang. Jauh di lubuk hatinya sesungguhnya dia sangat kesepian. Rumah besar itu hanya dihuninya seorang diri, pembantu rumahnya hanya datang pagi sampai sore hari. Selepas itu, kesunyian akan segera melingkupi rumah mewah itu. Malam ini, purnama sedang bulat sempurna, memancarkan sinarnya kepelosok bumi. Parmin duduk termangu di depan jendela kamarnya. Memandangi purnama yang begitu indahnya. Di lubuk hatinya yang terdalam ada berjuta sesal yang menggerogotinya.

Tiba-tiba semerbak wangi melati memenuhi ruangan kamarnya. Sesosok tubuh wanita cantik tampak sudah berbaring di atas tempat tidur. Paha mulusnya tampak sangat merangsang. Namun Parmin tak juga beranjak dari pinggir jendela kamarnya.

“Kang Parmin, mengapa kamu melamun kang? Apa uang yang aku berikan masih kurang? Tanya manja sang wanita. Parmin menarik nafas panjang, “ Nyi Dewi, uang yang kau berikan sudah sangat banyak, bahkan berrlebih”

“lalu mengapa kau melamun?

“Nyi, apa tidak sebaiknya hubungan kita, ….. kita akhiri sampai disini saja? Seru Parmin dengan suara perlahan.

Apa? Kau mau menceraikan aku? Hih hi hi kamu lupa dengan perjanjian kita kang?

“Tapi Nyi, aku merasa sudah tidak sangup lagi melayani mu, kau lihatlah saat ini aku sudah semakin kurus, dan aku sudah tidak sekuat dulu lagi”, seru parmin dengan memelas.

Hi hi hi hi baiklah kang, kalau begitu, tapi kamu harus melihat dulu anak kita kang”

Anak Kita?

Ya, anak yang sering aku ceritakan kepadamu itu, Dia sangat ingin berjumpa dengan mu”

Bagaimana caranya aku bisa berjumpa dengannya? Tanya Parmin

“Aku yang akan membawamu kepadanya kang..

Nyi Dewi Kencana memeluk Parmin dengan mesra, semerbak harum tubuhnya sangat memabukan setiap lelaki. Namun Parmin saat ini benar-benar sedang tidak ada selera. Dia menepis tubuh sang dewi dengan halus. Namun sang dewi tampak sedang bernafsu sekali. Tangannya kembali memeluk Parmin dengan mesra. “ Kau menolak ajakan ku kang? Tanyanya dengan suara tegas. “ maafkan aku Nyi, aku sudah tak sanggup lagi”

Nyi Dewi Kencana tersenyum. Senyum yang sangat menakutkan bagi Parmin.

“ Aku sangat mencintaimu kang” pelukannya semakin kuat, Parmin tak bisa bernafas. “A aa ampun kan aku nyi, aku minta maaf, suaranya semakin tercekat. Wajah Nyimas menyiratkan kemarahan yang sangat menakutkan. Perlahan wajahnya yang cantik jelita berubah menjadi Ular besar yang membelit rubuh parmin hingga remuk. Moncongnya yang besar segera melahap tubuh Parmin.

Rumah besar itupun segera diliputi kesunyian. Parmin hilang tak berbekas…………….








Bendera sudah terpasang, diapit  umbul-umbul aneka warna dikiri dan kanan. Semarak hari kemerdekaan selalu saja disambut antusias oleh bapak. Mantan pejuang yang selalu beceloteh  tentang heroisme meraih kemerdekaan. Tak  tehitung cerita yang masuk ketelingaku dari mulutnya. Tentang sebuah proses  panjang perjuangan merebut kemerdekaan. Jaman susah yang benar-benar tidak akan pernah ingin dilakoninya lagi. Kisah perjuangan melawan penjajah bersama teman-teman seperjuangannya. Pengorbanan nyawa, darah dan air mata demi  berkibarnya sang saka merah putih.
Hari itu, tubuh rentanya masih terlihat gagah. Seragam legium veteran yang selalu dikenakannya ketika acara peringatan hari kemerdekaan tampak rapi jali. Dia berjalan memeriksa setiap bendera yang terpasang di pinggir jalan kampungku. Membetulkan letaknya, merapikan tiang-tiangnya. Mata tua nya  masih memperlihatkan bara api semangat perjuangan.
Setelah upacara hari kemerdekaan, bapak pulang. Wajahnya terlihat agak pucat, namun  tampak sumringah. Sebuah bale bambu akhirnya menjadi perjalanan terakhirnya. Bapak menghembuskan nafas pada sebuah bale bambu usang didepan rumah. Masih mengenakan Seragam legium veteran kebanggannya. Seutas senyum bahagia masih tampak pada wajahnya.
                                                            *****
“Nak, tolong bendera merah putihnya kau pasang ya! Bendera yang benar-benar bendera merah putih, bukan merah pudar, sepudar rasa kebangsaan anak cucuku. Bukan juga putih dekil dan kotor seperti hati para pejabat saat ini”, serunya lirih.
“Bendera bukan sekedar dua buah kain berwarna yang disatukan oleh jahitan. Nilai historis, semangat, pengorbanan dan perjuangan yang tak kenal lelah yang terkandung didalamnya jauh lebih penting dari sekedar dua potong kain”.
Aku tertegun sejenak, “oh ya ya pak sahutku  sedikit gugup dan malu
Mata bapak tampak berkaca-kaca….
 “Tidak tenang rasanya kami melihat kenyataan yang ada. Kami merasa benar-benar di khianati. Perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajah asing adalah untuk meraih kemerdekaan dan kebebasan seluruh rakyat, bukan memerdekakan segelintir golongan saja”.
Lalu tiba-tiba saja suasana pertempuran berkelebatan seperti slide-slide yang diputar dalam layar bioskop. Tank-tank belanda menyerbu, suara raungan senjata mesin  memekakan telinga, deru pesawat terbang menggetarkan hati. Para pejuang merangsek, menyerbu dengan senjata seadanya. Tidak tampak rasa takut buat para pejuang yang telah menggadaikan nyawanya demi kemerdekaan ini. Desingan peluru dan ledakan bom disampingku membuatku terperanjat. Aku terbangun dengan nafas tersengal-sengal .Peluh membasahi tubuhku, akupun beringsut bangun. Aku duduk ditepi ranjang, mencoba mengingat dan memahami.  Tak lama, adzan subuh mulai berkumandang.
                                                                        *****
Semburat cahaya matahari mulai tampak di ufuk timur. Di depan rumah, sebuah bendera usang kumal tampak berkibar lelah di terpa angin. Warna merahnya sudah pudar dimakan zaman. Bendera yang kutemukan dengan susah payah, terselip bersama pakaian bekas dan kain lap.
Kupandangi bendera lusuh tersebut, perasaan sesak kurasakan dalam dada. “maafkan aku, pak! seruku lirih. Kuturunkan bendera lusuh tersebut.




Cibinong, 14 agustus 2013





Hujan baru saja usai, genangan air masih tampak dimana-mana. Sore beranjak malam. Lampu-lampu mulai menyala, membentuk cahaya-cahaya pendar melawan gelapnya malam. Pedagang kaki lima, mulai beraktivitas menyiapkan dagangannya.
Aku duduk disalah satu lapak PKL, Menikmati tepian malam yang dingin menusuk tulang. Aroma bandrek, asap rokok  dan aneka gorengan berpadu di udara. Gedung sate tampak megah diujung sana.
Ditemani segelas bandrek dan sepiring gorengan, dan riuh rendahnya muda-mudi berceloteh. Mataku tertumbuk pada sebuah gang sempit diujung sana. Di gang sempit dan bau got  itu pernah kami rajut berjuta asa, semasa kuliah dulu.. Sebongkah kenangan yang rasanya sulit untuk dilupakan. Betapa aku sangat merindukan nya pada saat-saat seperti ini. Jutaan kenangan pun kembali berkelebatan dalam kepalaku. Dari awal hingga hari-hari terakhir bersamanya.                                                                                                  
*****
Suasana lebaran, masih sangat terasa. Orang-orang ramai bersilaturahmi ke kerabat mereka. Bis jurusan Bogor itu penuh sesak. Aku berdiri disampingnya dalam suasana yang sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu. Kami pulang bersama tapi hati dan pikiran kami berjalan sendiri-sendiri. Sudah ratusan kali kami lalui jalur ini dalam suasana sukacita di mabuk asmara. Tapi tidak saat ini, Dia diam membisu dalam pengapnya bis yang diselimuti asap rokok. Aku melirik kearahnya, tatapannya kosong tak berperasaan. Aku tertunduk dalam diam, masih sesak rasanya mengingat  kata-katamu beberapa bulan  lalu.
“hubungan kita sudah tidak bisa dilanjutkan mas, sebaiknya kita berpisah saja!”
Aku tersentak kaget, “loh, memangnya kenapa?
“aku sudah tidak mencintaimu lagi, Tidak ada lagi rasa cinta dihati ini mas !”
Aku kehabisan kata-kata, ya tapi alasannya apa? Belum genap dua tahun kita menikah, kenapa kita sudah harus berpisah? Hatiku bergetar.
“mungkin bukan jodoh kita”, sahutnya dingin.
Aku terhenyak, selama menikah dengannya kurasakan jarak diantara kami memang serasa semakin hari semakin jauh.
“Terminal Bogor, Bogor, Bogor abis”
Aku tersentak dari lamunan, orang-orang bergegas turun  dari bis. Kami pun turun, “aku akan kembali ke tempat kos ku”, katanya datar. Aku terdiam,  belum sempat aku menjawab, dia sudah berlalu. Sudah satu bulan ini kami berpisah. Dia memilih untuk tinggal di tempat kos, didearah Jakarta Timur, dekat tempat kerjanya.
 Aku tersayat menyaksikan punggungnya yang  menjauh,  berjalan mantap menuju bis jurusan Jakarta.  Akupun pulang kerumah dengan perasaan kosong. Inilah perjalanan terakhirku bersamanya.
Sepanjang jalan menuju rumah, aku terhenyak di kursi pojok depan dekat supir bis. Bis bobrok ini bergerak perlahan,menimbulkan bunyi berdecit, merontokan karat dan sisa cat yang menempel.  Rentetan peristiwa berkecamuk dikepalaku, betapa aku pernah ada diatas puncak kebahagiaan, sampai terpuruk dalam kesedihan. Kami pernah tertawa dan menangis bersama,melewati berbagai peristiwa.
Diantara penumpang anonim ini,  kubayangkan dirinya  ada disana,terselip di sebuah bangku. Tangannya melambai memanggilku. Senyum lebarnya menyambutku, menuntaskan semua cerita sedih, bahwa ini semua hanya mimpi buruk. Celoteh ceria segera memenuhi ruang diantara kami.Membagikan aura cerianya hingga jauh menelusup dalam relung-relung jiwaku.
Aku tersenyum-senyum sendiri dalam tebaran bau debu dan asap knalpot yang meluruh dalam paru-paruku.. Semua ketololan ini hanya bisa dilakukan oleh seorang lelaki pengkhayal yang tak lagi mempercayai hari esok.  Biarlah waktu yang nanti mengobati luka hatimu, begitu orang bijak selalu berkata. Bayangnya akan sirna ditelan masa, memudar dalam lipatan  neuron dalam otak.
Nyatanya, tawa renyahnya masih saja menelusup dalam telingaku, binar matanya selalu muncul diantara halaman sidney sheldon yang kubaca, tersenyum dalam layar komputerku, dan seringkali muncul dalam banyak peristiwa yang kualami..
                                                            ******
Aku berdiri diujung gang, mencoba mencari sedikit rasa yang mungkin masih tertinggal. Namun hanya kekosongan yang kudapat. Dulu, setiap langkah penuh debar dan harap selalu membuncah di dadaku ketika  menapaki jalan kecil ini. Ingin rasanya kulangkahkan kaki  kedalam sana, tapi kuurungkan.
Aku hanya berdiri terpaku di depan gang dan tersenyum getir  melihat kedalam, betapa banyak sekali kenangan indah pernah kita rajut diujung jalan sana. Jutaan mimpi yang pernah coba kami  susun bersama. Disebuah rumah kos berukuran mungil yang menentramkan hati. Pada keramahan om Fritz,  pada kebaikan  hati ibu Puji dan keluarga nya, Juga pada bocah perempuan berambut keriting bermata besar yang sering menemani kami mengobrol. Biarlah kini hanya menjadi pemanis dalam  kisah hidupku dan hidupnya
Bandung, 16 Agustus 2013