Senin, 06 Desember 2010

SARJANA PETERNAKAN MAU KEMANA
Sarjana merupakan asset Negara yang cukup potensial, baik dalam peningkatan SDM maupun peningkatan pertumbuhan ekonomi. Seiring dengan pembangunan yang dilaksanakan saat ini , maka kebutuhan sarjana pun juga semakin meningkat. Tenaga kerja yang dibutuhkan saat ini tidak hanya mempunyai kualifikasi sarjana saja, tetapi sarjana yang mempunyai kemampuan multi skilling, dan flexible yang menuju ke kemampuan entrepreneurship. Tanpa itu semua maka jangan banyak berharap dapat terserap dalam lapangan kerja . ini berlaku pula dalam bidang peternakan , khususnya sarjana peternakan .
Ketika lulus dari perguruan tinggi maka kebutuhan mencari kerja menjadi prioritas utama. Bekal IPK tidaklah cukup karena persaingan sangat ketat, maka kemampuan dan keahlian lain diperlukan pada saat itu, seperti bahasa asing, komputer, akutansi, wirausaha ataupun koneksi menjadi sarana seorang pencari kerja untuk mencani pekerjaan.
Dr. Soehadji, mengemukakan bahwa untuk siap tempurmemasuki lapangan kerja setidaknya harus memiliki 5 kriteria. Kriteria tersebut adalah : menguasai bidangnya; dapat berpikir dan bertindak secara konsepsional; komunikatif ¬; siap kerja ;dapat berfikir secara sistematis, analisis dan logic.
Dengan kemampuan yang pas-pasan saja, sulit bagi sarjana peternakan untuk berkompetisi¬. Betapa tidak , karena pada saat ini terdapat kurang lebih 40 perguruan tinggi yang mempunyai fakultas/jurusan peternakan . Dengan asumsi setiap tahunnya dihasilkan 1000 orang sarjana maka akan sulit menyalurkan pekerjaan bagi mereka Kondisi in diperparah dengan dibukanya program-program baru dengan dalih tuntutan pasar, walaupun sudah jelas lulusan yang ada saat ini mengalami kesulitan memperoleh pekerjaan.
Data yang di tampilkan oleh sebuah majalah peternakan belum lama ini sudah sepantasnya mendapat perhatian kita. Jumlah sarjana pertanian (termasuk ¬ peternakan ) sampai tahun 1991
mencapai 92.129 orang, sementara peluang kerja yang tersedia hanya untuk 27.721 orang. Sedangkan 64 ribu sarjana lainnya entah bekerja dimana?.Dirjen Peternakan mengemukakan bahwa secara umum penyerapan tenaga kerja yang diukur dari ST/HCK riil pada tahun 1991 masih rendah sampai akhir pelita VI. Sub sektor peternakan di¬proyeksikan mampu menye¬rap tambahan kerja sebanyak 456 ribu orang yang tersebar pada berbagai tipologi usaha.
Melihat ketatnya tingkat persaingan untuk berkompetisi di bidang peternakan, maka tak heran bila banyak diantara S.Pt. yang, menyeberang atau alih profesi. Pada satu sisi kita lihat kenyataan ini cukup memprihatinkan , tapi pada sisi lain dapat menunjukan bahwa lulusan fapet dapat berkompetisi di bidang profesi lainnya.
Pada saat ini terdapat kecenderungan para pengusaha swasta menggunakan tenaga kerja terdidik dari berbagai disiplin ilmu, sehingga lulusan fapet pun ikut terserap pada bidang profesi non peternakan , seperti perbankan, asuransi, farmasi, pers,periklanan dan lain-lainnya. Kondisi demikian hendaknya menjadi pertim¬bangan atas kebijakan kurikulum pendidikan dalam fakultas untuk memberikan mata kuliah-mata kuliah yang mengikuti perkembangan jaman, dan mulai menanggalkan kurikulum zaman baheula. Kemudian yang tak kalah pentingnya perlu dipikirkan kembali nasib lulusan perguruan tinggi peternakan akan disalurkan kemana dimasa mendatang? (tulisan ini dimuat di majalah Interest edisi ke 4, april, 1995)
Bandingkan dengan kebutuhan dokter hewan yang tiap tahun terserap dibidang yang memang berhubungan dengan profesinya. Seperti yang terlihat pada tulisan berikut ini
IPB: Kebutuhan Dokter Hewan Meningkat
Selasa, 23 November 2010 12:23 WIB
Bogor, (tvOne)

Dalam beberapa tahun terakhir kebutuhan masyarakat akan keberadaan dokter hewan cenderung mengalami peningkatan, kata Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor Prof Dr Ir I Wayan Teguh Wibawan."Kebutuhan masyarakat akan dokter hewan dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami peningkatan," kata Prof Dr Ir I Wayan Teguh Wibawan di Bogor, Selasa.Menurut dia, secara umum semua daerah di Indonesia mengalami peningkatan kebutuhan terhadap dokter hewan.Kebutuhan tertinggi, lanjut dia, dialami Provinsi Jawa Barat, karena dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan permintaan terhadap dokter hewan."Gubernur Jawa Barat meminta untuk meningkatkan pelayanan dan mendistribusikan dokter hewan ini tidak hanya di wilayah Jabodetabek," ujarnya.Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriyawan menaruh perhatian besar terhadap keberadaan profesi dokter hewan.Saat pelaksanaan Idul Adha, Gubernur Jawa Barat memimpin pelepasan tim dokter hewan dari IPB ke berbagai daerah di Jabodetabek, untuk memeriksa hewan kurban yang akan disembelih.Kebutuhan Pemprov Jawa Barat maupun Pemprov lainnya di Indonesia terhadap dokter hewan tidak hanya saat Idul Adha, namun untuk seterusnya, terutama untuk mengawasi kesehatan hewan di pejagalan dan pusat peternakan baik milik pemerintah, swasta maupun masyarakat. (Ant)
Reaksi:

0 komentar :

Poskan Komentar